Republik Buzzer!

Ilustrasi orang sedang mencari informasi di telepon genggam. (Foto Beautynesia)
Ilustrasi orang sedang mencari informasi di telepon genggam. (Foto Beautynesia)

Bermedia.id – Hampir tidak ada lagi peristiwa publik yang dibiarkan berjalan apa adanya. Begitu sebuah isu mencuat, ruang digital seketika dipenuhi gelombang pujian, serangan, pembelaan, ejekan, hingga komentar yang datang nyaris bersamaan. Dalam hitungan jam, sebuah peristiwa berubah menjadi pertarungan narasi. Di tengah hiruk-pikuk itu, masyarakat semakin sulit memastikan mana pendapat yang lahir dari keyakinan, mana yang muncul karena kepentingan.

Fenomena semacam itu kini bukan lagi pengecualian. Ia telah menjadi bagian dari keseharian kita. Hampir setiap isu penting selalu diikuti pola yang sama: narasi diproduksi, diperbanyak, diperdengungkan, lalu diulang tanpa henti hingga memenuhi ruang percakapan. Apa yang tampak sebagai suara publik belum tentu benar-benar berasal dari publik.

Bacaan Lainnya

Di balik pola itulah profesi buzzer tumbuh menjadi industri komunikasi yang semakin mapan.

Buzzer bukan sekadar pengguna media sosial yang aktif berkomentar. Mereka bekerja sebagai bagian dari sebuah sistem. Ada kepentingan yang ingin diperjuangkan, narasi yang disusun, konten yang diproduksi, jaringan akun yang menyebarkannya, lalu algoritma media sosial yang memperluas jangkauannya. Semakin sering sebuah pesan diulang, semakin besar pula kesan bahwa pesan tersebut merupakan suara mayoritas.

Sepintas, tidak ada yang tampak salah. Setiap orang berhak menyampaikan pendapat, membela kepentingan, atau mempromosikan gagasannya. Namun persoalannya menjadi berbeda ketika pendapat tidak lagi lahir dari keyakinan, melainkan diproduksi sebagai bagian dari pekerjaan untuk menggiring persepsi publik. Pada titik itulah, komunikasi berhenti menjadi ruang pertukaran gagasan dan berubah menjadi alat untuk menguasai percakapan.

Yang membuat industri buzzer patut dikhawatirkan bukan semata-mata karena mereka mampu membuat sebuah isu menjadi viral. Viral hanyalah akibat. Persoalan yang jauh lebih serius adalah kemampuan mereka mengaburkan batas antara percakapan yang tumbuh secara alami dan percakapan yang sengaja direkayasa. Ketika keduanya bercampur, masyarakat kehilangan pijakan untuk menilai apakah sebuah dukungan benar-benar lahir dari aspirasi publik atau sekadar gema yang diproduksi berulang-ulang.

Akibatnya perlahan mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari. Orang menjadi lebih mudah curiga. Pujian dianggap pesanan. Kritik dituding bayaran. Dukungan dipandang tidak tulus. Bahkan pendapat yang disampaikan dengan jujur pun sering kali dicurigai sebagai bagian dari operasi buzzer. Ruang komunikasi yang seharusnya mempertemukan berbagai pandangan justru berubah menjadi ruang yang dipenuhi prasangka.

Yang terkikis bukan hanya kualitas informasi, melainkan kepercayaan antarsesama. Padahal kepercayaan merupakan perekat utama kehidupan sosial. Tanpa kepercayaan, percakapan kehilangan makna. Orang tidak lagi sibuk menilai isi sebuah pendapat, tetapi lebih tertarik menebak siapa yang berada di belakangnya dan siapa yang membiayainya. Lambat laun, kecurigaan menjadi kebiasaan, sedangkan kejujuran kehilangan tempatnya.

Ironisnya, semakin maraknya penggunaan buzzer justru membuat semakin banyak pihak merasa perlu memiliki buzzer. Ketika satu kelompok menggunakan pendengung untuk membangun citra atau menyerang lawan, kelompok lain terdorong melakukan hal yang sama agar tidak tertinggal dalam perebutan perhatian publik. Praktik yang semula dipandang sebagai jalan pintas perlahan berubah menjadi kebiasaan. Semakin sering diulang, semakin dianggap wajar.

Di sinilah letak bahaya yang sesungguhnya. Bukan semata-mata karena buzzer membuat media sosial menjadi lebih gaduh, melainkan karena mereka mendorong lahirnya budaya komunikasi yang menempatkan gema di atas kejujuran, pengulangan di atas argumentasi, dan persepsi di atas kenyataan. Ketika cara seperti ini terus dinormalisasi, masyarakat perlahan kehilangan kemampuan membedakan mana percakapan yang lahir secara tulus dan mana yang telah direkayasa demi kepentingan tertentu.

Semakin banyak pihak memilih menggunakan buzzer sebagai jalan pintas untuk menggiring persepsi publik, semakin besar pula kerusakan yang ditinggalkan pada ruang komunikasi kita. Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar citra seseorang atau kemenangan dalam sebuah perdebatan, melainkan kepercayaan masyarakat terhadap setiap percakapan yang berlangsung di ruang publik.

Mungkin kita tidak akan pernah bisa menghapus buzzer dari ruang digital. Namun kita masih bisa menentukan satu hal: apakah praktik itu akan terus dianggap sebagai strategi komunikasi yang wajar, atau mulai dipandang sebagai kebiasaan yang perlahan menggerus kepercayaan antarsesama. Sebab setiap kali sebuah pendapat lebih dipercaya karena gemanya daripada karena isinya, sesungguhnya kita sedang kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar sebuah perdebatan.

Pos terkait