Pramuka: Ada tapi Tiada

Anggota Pramuka tingkat penggalang sedang mengikuti kegiatan (Foto Kompaspedia)
Anggota Pramuka tingkat penggalang sedang mengikuti kegiatan (Foto Kompaspedia)

Bermedia.id – Setiap 14 Agustus, kita kembali diingatkan pada keberadaan Gerakan Pramuka. Tahun ini peringatan Hari Pramuka terasa lebih istimewa karena beriringan dengan pelaksanaan Jambore Nasional XII di Jakarta. Ribuan anggota Pramuka berkumpul, berkemah, mengikuti berbagai kegiatan, belajar, bekerja sama, dan merasakan pengalaman yang menjadi bagian penting dari pendidikan kepramukaan.

Di tengah kemeriahan itu, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan: mengapa Gerakan Pramuka terasa semakin jauh dari kesadaran masyarakat?

Bacaan Lainnya

Pramuka sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Organisasinya masih ada. Kegiatan tetap berlangsung. Gugus depan tetap berjalan. Anak-anak masih mengenakan seragam cokelat dan mengikuti berbagai aktivitas kepramukaan.

Tetapi mungkin di sinilah paradoksnya: Pramuka ada, tetapi terasa tiada.

Ia ada secara kelembagaan, tetapi seolah semakin jarang hadir dalam percakapan kehidupan sehari-hari.

Padahal, jika melihat sistem pendidikannya, Pramuka memiliki sesuatu yang sangat berharga. Pendidikan kepramukaan tidak semata-mata mengajarkan pengetahuan, tetapi membentuk manusia melalui pengalaman. Anak belajar disiplin, bekerja dalam kelompok, memimpin dan dipimpin, menyelesaikan persoalan, bertanggung jawab, hidup mandiri, serta menghadapi keadaan yang tidak selalu nyaman.

Banyak hal yang justru semakin dibutuhkan dalam kehidupan hari ini.

Di tengah budaya serba cepat, Pramuka mengajarkan proses. Di tengah kecenderungan individualisme, ia mengajarkan kerja sama. Di tengah ketergantungan pada teknologi, ia mengajarkan kemandirian. Dan di tengah kecenderungan mencari jalan yang paling mudah, ia mengajarkan ketangguhan menghadapi kesulitan.

Lalu mengapa sesuatu yang memiliki nilai pendidikan seperti itu justru terasa semakin tidak terlihat?

Mungkin persoalannya bukan pada nilai-nilai kepramukaan. Nilai itu masih relevan. Yang perlu kita pertanyakan adalah bagaimana nilai tersebut dihadirkan kepada generasi yang kehidupannya sudah berubah begitu cepat.

Anak-anak hari ini tumbuh dalam dunia yang berbeda. Mereka belajar bukan hanya dari sekolah dan keluarga, tetapi juga dari media sosial, YouTube, gim, influencer, dan berbagai bentuk komunikasi digital. Perhatian mereka diperebutkan oleh begitu banyak hal setiap hari.

Dalam situasi seperti itu, Pramuka tidak cukup hanya mengandalkan seragam, upacara, perkemahan atau rutinitas organisasi.

Pramuka perlu kembali menjadi pengalaman yang bermakna.

Anak-anak perlu merasakan bahwa menjadi Pramuka bukan sekadar menjalankan kegiatan sekolah, tetapi memperoleh bekal untuk menghadapi kehidupan. Bahwa kepemimpinan bukan sekadar materi latihan. Bahwa disiplin bukan sekadar aturan. Bahwa gotong royong bukan sekadar slogan. Bahwa keberanian bukan sekadar keberanian tampil di depan kelompok.

Di sinilah kita perlu melihat persoalan Pramuka secara lebih jujur.

Jangan-jangan yang mulai hilang bukan Pramukanya, melainkan daya hidupnya.

Sebuah gerakan pendidikan tidak cukup hanya memiliki struktur organisasi dan kegiatan rutin. Ia harus mampu menggugah. Ia harus membuat anak-anak merasa bahwa apa yang mereka pelajari memiliki arti bagi kehidupan mereka.

Karena itu, peringatan Hari Pramuka semestinya tidak berhenti pada upacara dan ucapan selamat. Jambore Nasional XII juga jangan hanya menjadi peristiwa besar yang selesai ketika tenda-tenda dibongkar dan para peserta kembali ke daerah masing-masing.

Momentum ini seharusnya menjadi kesempatan untuk bertanya: masihkah kita mampu menjadikan Pramuka sebagai pendidikan yang hidup?

Sebab nilai-nilai yang diajarkan Pramuka sebenarnya tidak pernah kehilangan relevansi. Dunia boleh berubah. Teknologi boleh berkembang. Cara anak-anak berkomunikasi boleh berganti.

Tetapi manusia tetap membutuhkan disiplin, keberanian, kemandirian, tanggung jawab, kepemimpinan dan kemampuan bekerja bersama. Mungkin karena itu, kita tidak perlu bertanya apakah Pramuka masih dibutuhkan.

Yang lebih penting adalah bertanya: apakah kita masih mampu membuat Pramuka dibutuhkan? Sebab bisa jadi Pramuka bukan benar-benar tiada. Kita saja yang semakin jarang membuatnya ada.

Pos terkait