Bermedia.id – Delapan puluh satu tahun sudah Indonesia merdeka. Sebuah perjalanan panjang yang tentu tidak sedikit menghasilkan kemajuan. Jalan dan jembatan bertambah, teknologi berkembang, akses informasi semakin terbuka, pendidikan semakin luas, dan berbagai sektor kehidupan terus bergerak. Indonesia hari ini tentu bukan Indonesia delapan dekade lalu.
Namun, pada usia yang semakin matang itu, kita juga perlu berani bercermin. Di balik berbagai kemajuan, masih terlalu banyak pekerjaan rumah yang belum selesai. Bahkan pada sejumlah bidang, kita harus mengakui bahwa perjalanan bangsa ini tidak selalu bergerak maju. Ada persoalan yang berulang, ada ketimpangan yang belum terselesaikan, dan ada tantangan baru yang justru semakin kompleks.
Nilai tukar rupiah, misalnya, dapat menjadi salah satu cermin perjalanan ekonomi kita. Membandingkan posisi rupiah ketika Indonesia merayakan 50 tahun kemerdekaan dengan kondisinya menjelang usia 81 tahun menunjukkan betapa panjang dan tidak sederhananya perjalanan ekonomi sebuah bangsa. Tentu nilai tukar bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Ia dipengaruhi banyak faktor, baik domestik maupun global. Tetapi ia cukup untuk mengingatkan kita bahwa setelah 81 tahun merdeka, masih banyak pekerjaan ekonomi yang harus diselesaikan.
Masalahnya, kita sering kali lebih sibuk memperdebatkan persoalan daripada mengerjakannya.
Hampir setiap hari kita menyaksikan perdebatan. Di televisi, di media sosial, di ruang-ruang percakapan, bahkan di antara sesama warga. Kita memperdebatkan siapa yang salah, siapa yang paling benar, siapa yang paling berjasa, dan siapa yang paling layak disalahkan.
Perdebatan itu kadang begitu panjang, tetapi persoalannya tetap berada di tempat yang sama.
Di sinilah kita patut bertanya: jangan-jangan bangsa ini sedang mengalami kelelahan bukan karena terlalu banyak bekerja, tetapi karena terlalu banyak menghabiskan energi untuk mempertentangkan satu sama lain?
Padahal membangun bangsa sebesar Indonesia membutuhkan energi yang luar biasa besar. Kita membutuhkan lebih banyak tangan yang bekerja, pikiran yang menciptakan solusi, dan hati yang bersedia bekerja bersama.
Semakin dewasa sebuah bangsa, semestinya semakin matang pula cara rakyatnya menghadapi perbedaan.
Indonesia tentu tidak membutuhkan masyarakat yang selalu sepakat. Perbedaan pendapat adalah keniscayaan. Kritik diperlukan. Debat pun bukan sesuatu yang harus dilarang. Bahkan dalam kehidupan demokratis, perdebatan merupakan bagian penting untuk menguji gagasan dan mengoreksi kekuasaan.
Tetapi semua itu memiliki etika.
Kebebasan berbicara tidak berarti kebebasan untuk merendahkan. Perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan permusuhan. Kritik tidak harus berubah menjadi penghinaan. Dan memenangkan perdebatan tidak selalu berarti memenangkan persoalan.
Kita juga tidak harus meniru seluruh cara negara lain dalam menjalankan kebebasan. Apa yang dianggap biasa dalam budaya politik negara tertentu belum tentu tepat diterapkan begitu saja di Indonesia.
Kita memiliki nilai sosial yang telah hidup jauh sebelum republik ini berdiri: musyawarah, gotong royong, tenggang rasa, saling menghormati, dan kesediaan mendengarkan.
Nilai-nilai itu bukan tanda bahwa kita takut berbeda. Justru sebaliknya. Ia menunjukkan bahwa kita memiliki cara sendiri untuk mengelola perbedaan.
Demokrasi tidak membutuhkan masyarakat yang selalu sepakat. Demokrasi membutuhkan masyarakat yang mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa hormat.
Karena itu, mungkin yang perlu kita kurangi bukan keberanian untuk berdebat, melainkan kegemaran menjadikan perdebatan sebagai tujuan.
Kita membutuhkan lebih banyak diskusi daripada pertengkaran. Lebih banyak pertukaran gagasan daripada saling serang. Lebih banyak mendengarkan daripada memotong pembicaraan. Dan yang paling penting, lebih banyak tindakan setelah pembicaraan selesai.
Sebab bangsa ini tidak akan menjadi besar karena rakyatnya paling pandai berdebat.
Indonesia akan menjadi besar ketika semakin banyak rakyatnya bersedia melakukan sesuatu untuk membuat kehidupan bersama menjadi lebih baik.
Petani bekerja dengan pengetahuan dan teknologi yang lebih baik. Guru mengajar dengan kesungguhan. Pengusaha menciptakan lapangan kerja. Pekerja menjaga profesionalitas. Akademisi menghasilkan pengetahuan yang berguna. Media membangun ruang publik yang sehat. Aparat menjalankan hukum dengan adil. Pemerintah bekerja sungguh-sungguh. Dan masyarakat menjaga lingkungan sosialnya agar tidak mudah terpecah oleh perbedaan.
Itulah gotong royong dalam wajah Indonesia hari ini.
Gotong royong bukan sekadar kerja bakti membersihkan selokan. Ia adalah kesediaan untuk memahami bahwa kemajuan Indonesia bukan pekerjaan satu kelompok, satu partai, satu pemerintah, atau satu generasi.
Kemerdekaan telah memberikan kita ruang untuk menentukan masa depan sendiri. Tetapi kemerdekaan juga membawa tanggung jawab untuk mengisi ruang itu dengan kerja.
Maka, pada usia 81 tahun, mungkin sudah waktunya kita bertanya kepada diri sendiri: setelah upacara selesai, apa yang akan kita kerjakan?
Setelah bendera diturunkan, setelah lagu kebangsaan berhenti dinyanyikan, setelah pidato-pidato selesai disampaikan, apakah kita kembali kepada kebiasaan lama—saling menyalahkan, saling menyerang, dan memperpanjang perdebatan?
Ataukah kita bersedia membawa semangat kemerdekaan itu ke dalam pekerjaan sehari-hari?
Sebab kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan mengibarkan bendera. Kemerdekaan juga harus terasa dalam kehidupan rakyat: ketika anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, ketika orang tua memiliki kehidupan yang layak, ketika pekerjaan tersedia, ketika hukum ditegakkan dengan adil, ketika perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling membenci, dan ketika setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya.
Delapan puluh satu tahun adalah usia yang cukup panjang untuk belajar bahwa membangun bangsa tidak pernah selesai dalam satu periode pemerintahan, satu generasi, atau satu perdebatan.
Karena itu, mari kita tetap kritis. Tetap berani menyampaikan pendapat. Tetap mengoreksi ketika ada yang keliru. Tetapi mari kita lakukan dengan cara yang lebih dewasa.
Kurangi kegaduhan. Perbanyak diskusi. Kurangi saling menyalahkan. Perbanyak kerja sama. Kurangi keinginan untuk terlihat paling benar. Perbanyak keinginan untuk menemukan jalan keluar.
Pada akhirnya, Indonesia tidak terlalu membutuhkan lebih banyak orang yang menang dalam perdebatan.
Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang mau ikut bekerja.
Karena setelah 81 tahun merdeka, pertanyaan terpenting bukan lagi sekadar siapa yang paling benar tentang Indonesia, melainkan: apa yang sudah kita lakukan untuk Indonesia?






