Bermedia.id – Gagasan menggunakan tepung berbahan ubi atau singkong untuk membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mungkin terdengar tidak biasa. Namun, justru dari gagasan-gagasan yang tidak biasa itulah inovasi kadang lahir.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto adanya inovasi tersebut. Presiden pun merespons positif dan meminta agar gagasan itu diuji serta dikembangkan. Bahkan muncul istilah “tepung bombing” sebagai alternatif dari water bombing.
Sampai di sini, tidak ada yang salah. Gagasan memang tidak harus selalu terdengar masuk akal pada pandangan pertama. Yang penting adalah bagaimana gagasan itu diuji.
Persoalannya muncul ketika sebuah gagasan yang belum terbukti mulai diperlakukan seperti sebuah penemuan.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah tepung ubi benar-benar efektif memadamkan karhutla? Dalam kondisi api seperti apa? Seberapa besar efektivitasnya? Berapa banyak tepung yang diperlukan? Bagaimana dampaknya terhadap lingkungan? Apakah sudah melalui pengujian ilmiah yang memadai?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan bentuk penolakan. Justru sebaliknya, itulah cara menghormati sebuah inovasi.
Kalau memang terbukti efektif, silakan dikembangkan. Bahkan kalau bisa lebih murah dan lebih ramah lingkungan daripada metode yang selama ini digunakan, tentu patut diapresiasi. Tetapi sebelum sampai ke sana, sebuah gagasan tetaplah gagasan. Ia harus melewati pengujian, pembuktian dan evaluasi.
Masalahnya, dalam budaya birokrasi yang terlalu akrab dengan “asal bapak senang”, proses seperti itu kadang menjadi kabur.
Budaya asal bapak senang bukan sekadar kebiasaan memuji atasan. Ia jauh lebih berbahaya ketika membuat bawahan merasa lebih aman mengatakan “siap, Pak” daripada mengatakan “belum terbukti, Pak”.
Dalam organisasi yang sehat, bawahan seharusnya menyampaikan informasi sebagaimana adanya. Jika sebuah gagasan masih berupa dugaan, katakan dugaan. Jika belum diuji, katakan belum diuji. Jika memiliki kelemahan, sampaikan kelemahannya.
Tetapi dalam budaya ABS, informasi bisa mengalami perubahan ketika naik dari bawah ke atas.
Sebuah gagasan yang semula berbunyi, “Ada dugaan tepung ubi bisa membantu memadamkan api,” dapat berubah menjadi, “Ada inovasi tepung ubi untuk pemadaman api.”
Kemudian berubah lagi menjadi, “Kita memiliki teknologi baru untuk mengatasi karhutla.”
Padahal substansinya belum tentu berubah. Yang berubah adalah cara informasi itu dikemas.
Di situlah budaya ABS menjadi berbahaya.
Sebab persoalannya bukan lagi soal menyenangkan hati atasan. Persoalannya adalah distorsi informasi yang dapat memengaruhi keputusan negara.
Karhutla bukan persoalan kecil. Ia menyangkut kesehatan masyarakat, lingkungan, ekonomi, transportasi, bahkan hubungan antarnegara ketika asap lintas batas terjadi.
Karena itu, negara membutuhkan gagasan yang berani, tetapi juga membutuhkan mekanisme pengujian yang ketat.
Gagasan boleh liar. Pengujiannya harus disiplin.
Jangan sampai karena seorang pejabat menyukai sebuah gagasan, seluruh bawahan berlomba mencari alasan untuk membenarkannya. Sebaliknya, jangan pula sebuah inovasi langsung ditolak hanya karena terdengar aneh.
Yang dibutuhkan adalah budaya yang memungkinkan orang mengatakan: “Ide ini menarik. Mari kita buktikan.”
Kalimat sederhana itu sebenarnya mencerminkan kualitas birokrasi.
Birokrasi yang sehat bukan birokrasi yang seluruh bawahannya selalu mengatakan “siap”. Birokrasi yang sehat adalah birokrasi yang berani menyampaikan kenyataan kepada pimpinan, termasuk ketika kenyataan itu tidak menyenangkan.
Sebab pemimpin tidak membutuhkan orang yang selalu membenarkan dirinya. Pemimpin membutuhkan informasi yang benar agar dapat mengambil keputusan yang benar.
Maka, persoalan terbesar dari fenomena “tepung bombing” sesungguhnya bukan apakah tepung ubi dapat memadamkan api atau tidak.
Biarkan para ilmuwan dan peneliti mengujinya.
Persoalan yang lebih penting adalah apakah negara masih memiliki cukup banyak orang yang berani bertanya sebelum mengiyakan.
Sebab jika budaya asal bapak senang dibiarkan tumbuh, suatu hari kita mungkin bukan hanya sibuk memadamkan api di hutan.
Kita juga harus memadamkan kebiasaan mengiyakan sesuatu yang belum terbukti. Dan itu jauh lebih sulit dipadamkan.






