Bermedia.id – Ada yang diam-diam berubah dalam kehidupan kita. Dahulu orang berlomba menjadi yang paling berilmu. Hari ini, semakin banyak orang berlomba menjadi yang paling menarik perhatian. Pernyataan yang paling keras lebih cepat didengar daripada penjelasan yang paling masuk akal. Kontroversi lebih mudah menjadi berita daripada prestasi. Bahkan di ruang digital, sering kali orang yang berhasil membuat publik marah memperoleh panggung yang lebih besar daripada mereka yang menawarkan solusi.
Mula-mula kita menganggap semua itu sekadar dampak media sosial. Namun jika diperhatikan lebih saksama, gejala ini sesungguhnya menunjukkan perubahan yang jauh lebih mendasar. Yang berubah bukan hanya cara orang berbicara. Yang berubah adalah nilai sebuah perhatian.
Hari ini perhatian manusia mempunyai harga. Semakin lama kita menatap layar, semakin besar keuntungan yang dapat diperoleh seseorang. Semakin sering kita terpancing emosi, semakin tinggi nilai sebuah konten. Semakin ramai sebuah isu diperbincangkan, semakin besar pula peluangnya untuk terus memenuhi ruang publik. Di sinilah perhatian berubah menjadi komoditas. Fenomena inilah yang oleh para ilmuwan disebut sebagai Ekonomi Perhatian.
Istilahnya mungkin masih asing namun fenomenanya tidak. Kita mengalaminya hampir setiap hari.
Lebih dari lima puluh tahun lalu, Herbert A. Simon mengingatkan bahwa ketika informasi semakin melimpah, perhatian manusia justru menjadi sumber daya yang paling langka. Ramalan itu kini menjadi kenyataan. Persoalannya bukan lagi kekurangan informasi, melainkan terlalu banyak informasi yang berebut memasuki ruang pikiran kita. Dalam situasi seperti itu, perhatian berubah menjadi aset yang sangat bernilai. Semakin lama seseorang mampu membuat kita menonton, membaca, atau berdebat, semakin besar pula nilai ekonomi maupun politik yang dapat diperoleh.
Karena itu, jangan heran jika hari ini banyak orang rela melakukan apa saja demi menjadi pusat perhatian. Ada yang sengaja mengeluarkan pernyataan tanpa dasar, ada yang membangun kontroversi, ada pula yang memelihara konflik agar namanya terus diperbincangkan. Mereka memahami satu kenyataan sederhana: perhatian publik dapat diubah menjadi pengikut, pengikut dapat diubah menjadi pengaruh, dan pengaruh pada akhirnya dapat diubah menjadi keuntungan ekonomi maupun kekuasaan politik.
Perubahan itu tampak sepele, tetapi sesungguhnya sangat menentukan. Sebab perhatian bukan sekadar perkara apa yang kita lihat hari ini. Perhatian adalah pintu masuk bagi cara kita berpikir besok. Apa yang terus-menerus memenuhi pikiran kita lambat laun membentuk cara kita memahami kenyataan. Ketika setiap hari kita disuguhi kemarahan, kita akan mengira dunia memang hanya dipenuhi kemarahan. Ketika setiap hari kita dijejali pertengkaran, kita akan lupa bahwa di luar sana masih banyak orang yang bekerja, berkarya, dan membangun negeri tanpa perlu berteriak.
Karena itu, bahaya terbesar ekonomi perhatian bukan terletak pada banyaknya informasi yang kita terima. Bahayanya justru muncul ketika kita kehilangan kemampuan membedakan mana yang penting dan mana yang sekadar menarik. Kita menghabiskan energi mengikuti isu yang berganti setiap hari, tetapi semakin sedikit waktu untuk memikirkan persoalan yang benar-benar menentukan masa depan bangsa. Pendidikan, produktivitas, riset, kemiskinan, ketahanan pangan, dan kualitas pelayanan publik sering kali kalah bersaing dengan kegaduhan yang mungkin sudah terlupakan minggu depan. Di sinilah bangsa Indonesia perlu bersikap lebih waspada.
Bangsa yang setiap hari hanya disibukkan oleh sensasi lambat laun akan kehilangan fokus membangun dirinya sendiri. Sebaliknya, bangsa yang mampu menjaga perhatian warganya tetap tertuju pada ilmu pengetahuan, kerja keras, persatuan, dan kesejahteraan akan memiliki energi untuk melangkah lebih jauh. Sejarah tidak pernah mencatat sebuah negara menjadi maju karena paling pandai menciptakan kegaduhan. Kemajuan selalu lahir dari kemampuan memusatkan perhatian pada pekerjaan-pekerjaan besar yang manfaatnya melampaui satu generasi.
Karena itu, tantangan kita hari ini bukanlah menghindari teknologi ataupun memusuhi media sosial. Tantangan yang sesungguhnya jauh lebih sederhana, tetapi juga jauh lebih sulit: menjaga agar perhatian kita tidak mudah dibeli oleh sensasi, tidak mudah diarahkan oleh kemarahan, dan tidak mudah disibukkan oleh hal-hal yang tidak membawa bangsa ini ke mana-mana.






