Kritik Orang Melulu, Kritik Diri Sendiri Kapan?

Mural di salah satu tembok berisi kritik sosial (Foto Riau Mandiri)
Mural di salah satu tembok berisi kritik sosial (Foto Riau Mandiri)

Bermedia.id – Setiap hari kita punya alasan untuk mengkritik. Pemerintah dinilai tidak becus mengurus ekonomi, kebijakan dianggap tidak berpihak kepada rakyat, pelayanan publik dikeluhkan, harga-harga dipersoalkan, bahkan perilaku orang lain pun tidak luput dari sorotan. Di ruang publik, kritik seolah menjadi olahraga bersama. Ada saja yang salah di luar sana, dan selalu ada pihak lain yang dianggap paling bertanggung jawab atas keadaan yang kita hadapi.

Kritik tentu bukan sesuatu yang buruk. Justru masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang berani mengoreksi kekuasaan. Pemerintah harus diawasi, kebijakan harus diuji, dan pejabat publik harus bersedia mempertanggungjawabkan keputusan yang dibuatnya.

Bacaan Lainnya

Tetapi ada satu pertanyaan yang barangkali jarang kita ajukan kepada diri sendiri: kalau kritik terhadap pemerintah dan orang lain begitu rajin kita lakukan, kapan terakhir kali kita mengkritik diri sendiri?

Pertanyaan ini penting karena tidak semua persoalan hidup kita selesai hanya dengan menemukan siapa yang salah.

Pemerintahan boleh berganti. Kebijakan bisa berubah. Kondisi ekonomi dapat memburuk atau membaik. Lapangan pekerjaan bisa semakin sulit. Teknologi terus berubah dan menciptakan jenis pekerjaan baru sekaligus menghilangkan pekerjaan lama. Dunia bergerak dengan kecepatan yang sering kali tidak memberi kita cukup waktu untuk mengeluh.

Di tengah perubahan itu, kita tetap harus menjalani kehidupan.

Di sinilah persoalan menjadi lebih personal. Pemerintah memang memiliki tanggung jawab untuk menciptakan kebijakan yang adil, ekonomi yang sehat, pendidikan yang baik, lapangan pekerjaan, serta perlindungan bagi masyarakat. Tetapi kehidupan kita tidak mungkin sepenuhnya menunggu semua itu menjadi sempurna.

Sebab, bagaimanapun pemerintahan dikelola, kita tetap harus bekerja. Bagaimanapun orang lain memilih bersikap, kita tetap harus mengambil keputusan. Bagaimanapun kerasnya perubahan zaman, kita tetap harus menemukan cara untuk bertahan dan berkembang.

Maka pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang salah dengan pemerintah?”

Tetapi juga, “Apa yang sudah saya lakukan agar mampu menghadapi keadaan ini?”

Jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk menghitung kesalahan orang lain sampai lupa menghitung kelemahan sendiri. Kita menuntut pemerintah menciptakan lapangan pekerjaan, tetapi tidak pernah serius meningkatkan kompetensi. Kita mengeluhkan persaingan yang semakin ketat, tetapi kemampuan diri tidak pernah diperbarui. Kita menyalahkan keadaan ketika gagal, tetapi enggan bertanya apakah strategi yang kita gunakan memang masih relevan.

Kita bahkan sering menuntut orang lain berubah, sementara diri sendiri merasa tidak perlu berbenah.

Padahal kehidupan tidak pernah menjanjikan keadaan yang sesuai dengan keinginan kita.

Karena itu, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu modal terpenting manusia modern. Adaptasi bukan berarti menyerah kepada keadaan. Bukan pula berarti membenarkan kebijakan pemerintah yang buruk atau menerima ketidakadilan begitu saja.

Adaptasi adalah kemampuan untuk membaca perubahan, mengakui kenyataan, kemudian mencari cara agar kita tidak menjadi korban permanen dari perubahan tersebut.

Ada perbedaan besar antara mengeluhkan keadaan dan mempersiapkan diri menghadapi keadaan.

Yang pertama bisa dilakukan siapa saja. Yang kedua membutuhkan keberanian, disiplin dan kemauan untuk mengakui bahwa mungkin ada sesuatu dalam diri kita yang juga harus diperbaiki.

Barangkali kita perlu membiasakan dua jenis kritik berjalan beriringan. Kritik ke luar diperlukan agar kekuasaan tidak berjalan tanpa kontrol. Tetapi kritik ke dalam diperlukan agar kita tidak menjadi manusia yang selalu merasa menjadi korban keadaan.

Kita boleh mempertanyakan kualitas pemerintah. Tetapi kita juga harus mempertanyakan kualitas diri.

Kita boleh menuntut negara memperbaiki pendidikan. Tetapi kita juga harus bertanya apakah kita masih mau belajar.

Kita boleh mengeluhkan kerasnya persaingan. Tetapi kita juga harus bertanya apakah kemampuan kita memang sudah cukup untuk bersaing.

Kita boleh kecewa kepada orang lain. Tetapi kita juga perlu bertanya apakah selama ini kita sudah menjadi orang yang layak dipercaya, dihargai dan diandalkan.

Pada akhirnya, kritik terhadap dunia tidak otomatis membuat kehidupan kita menjadi lebih baik. Kritik hanya menjadi berarti ketika ia melahirkan kesadaran dan tindakan.

Pemerintah tetap harus bekerja. Negara tetap harus hadir. Mereka yang memiliki kekuasaan tetap wajib mempertanggungjawabkan setiap kebijakan kepada rakyat.

Tetapi di luar semua itu, ada wilayah kehidupan yang tidak bisa diserahkan kepada siapa pun: diri kita sendiri.

Kita tidak bisa memilih siapa yang menjadi pemerintah setiap hari. Kita tidak bisa mengendalikan bagaimana orang lain berpikir dan bertindak. Kita bahkan tidak selalu bisa memilih keadaan yang datang kepada kita.

Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana mempersiapkan diri menghadapinya.

Maka sesekali, sebelum menunjuk ke luar, mungkin tidak ada salahnya kita menoleh ke dalam. Kritik orang melulu, kritik diri sendiri kapan?

Pos terkait