Ulang Tahun Jakarta ke-499: Saatnya Orang Betawi Naik Kelas

Ondel-ondel diarak masyarakat.
Ondel-ondel diarak masyarakat.

Bermedia.id – Ulang tahun bukan sekadar penanda bertambahnya usia. Ia juga menjadi pengingat bahwa waktu terus bergerak. Setiap tahun yang berlalu semestinya bukan hanya menambah kenangan, tetapi juga menambah kedewasaan. Sebab tidak ada gunanya usia yang semakin panjang jika cara berpikir tetap berjalan di tempat.

Makna itu juga berlaku bagi Jakarta.

Bacaan Lainnya

Setiap perayaan ulang tahun ibu kota hampir selalu dipenuhi cerita tentang sejarah, tokoh-tokoh masa lalu, dan kebanggaan terhadap kebudayaan Betawi. Semua itu memang layak dirawat. Sebuah masyarakat yang melupakan sejarahnya akan kehilangan arah. Namun, masyarakat yang terlalu sibuk memandangi masa lalunya juga berisiko terlambat menyiapkan masa depannya.

Di sinilah orang Betawi perlu mulai memaknai ulang arti sebuah kemajuan.

Kemajuan tidak lahir karena kita semakin pandai menceritakan masa lalu. Kemajuan lahir ketika kita mampu mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Karena itu, kebanggaan terhadap sejarah tidak boleh berhenti sebagai romantisme. Ia harus berubah menjadi energi untuk membangun kualitas manusia Betawi hari ini.

Perubahan pertama justru dimulai dari cara memandang sejarah itu sendiri. Sejarah bukan panggung untuk membesarkan diri, apalagi merasa cukup hanya karena pernah memiliki masa lalu yang membanggakan. Sejarah adalah sumber pelajaran. Semakin dewasa sebuah masyarakat, semakin bijak pula ia menempatkan sejarah sebagai pijakan untuk melangkah, bukan sebagai tempat untuk menetap.

Cara berpikir seperti itu akan membentuk cara orang Betawi berhadapan dengan dunia di sekitarnya. Jakarta hari ini mempertemukan berbagai latar belakang, profesi, dan budaya dalam ruang yang sama. Karena itu, keramahan khas Betawi perlu tumbuh menjadi kemampuan bergaul di lingkungan mana pun. Ceplas-ceplos tetap boleh menjadi warna, tetapi bukan alasan untuk kehilangan kepekaan membaca situasi. Menjadi akrab tidak sama dengan menjadi sembarangan. Justru orang yang matang tahu bagaimana menjaga keluwesan tanpa kehilangan wibawa.

Kedewasaan yang sama juga tercermin dari cara membawa diri. Berpenampilan sesuai zaman bukan berarti meninggalkan identitas. Yang berubah hanyalah cara menyesuaikan diri dengan ruang dan keadaan. Seseorang tidak menjadi kurang Betawi hanya karena mampu tampil profesional ketika diperlukan. Sebaliknya, kemampuan menempatkan diri adalah tanda bahwa identitasnya cukup kuat untuk tidak merasa terancam oleh perubahan.

Pada akhirnya, perubahan sosial adalah kenyataan yang tidak pernah meminta izin kepada siapa pun. Ia akan terus datang, cepat atau lambat. Pilihannya hanya dua: menjadi penonton yang sibuk mengenang masa lalu, atau menjadi pelaku yang menyiapkan diri menghadapi masa depan. Orang Betawi memiliki semua modal untuk memilih pilihan kedua. Nilai religius, keterbukaan, dan kreativitas yang selama ini menjadi kekuatan sosialnya justru dapat menjadi bekal untuk terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

Mungkin inilah makna “naik kelas” yang sesungguhnya.

Naik kelas bukan tentang menjadi lebih tinggi daripada orang lain. Bukan pula tentang meninggalkan kebetawian agar terlihat modern. Naik kelas adalah keberanian mengubah cara berpikir tanpa mengubah jati diri. Meninggalkan kebiasaan hidup dalam kebanggaan masa lalu, lalu mulai membangun kebanggaan baru melalui kualitas diri yang mampu menjawab tantangan zamannya.

Karena pada akhirnya, sebuah masyarakat tidak dihormati hanya karena memiliki sejarah yang besar. Ia dihormati karena mampu melahirkan generasi yang lebih besar daripada sekadar cerita tentang masa lalunya.

Pos terkait