“Ndasmu!” Ketika Presiden Bicara di Podium Negara

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sambutan dalam salah satu acara - Foto AP
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sambutan dalam salah satu acara - Foto AP

Bermedia.id – Belakangan ini publik lebih sering membicarakan cara Presiden Prabowo Subianto berbicara daripada substansi pidato yang disampaikan. Dalam sejumlah kesempatan, perhatian tidak sepenuhnya tertuju pada kebijakan yang dijelaskan, tetapi pada pilihan kata yang muncul ketika merespons kritik dan perbedaan pendapat. Akibatnya, ruang diskusi publik kerap bergeser dari isi pidato menjadi gaya komunikasi seorang kepala negara.

Fenomena ini mungkin tampak sederhana. Namun di baliknya terdapat satu pertanyaan yang lebih mendasar: ketika seseorang telah menjadi Presiden Republik Indonesia, masihkah ia berbicara sebagai dirinya sendiri?

Bacaan Lainnya

Seorang presiden tentu tetap manusia biasa. Ia bisa merasa tidak nyaman terhadap kritik, bisa berbeda pandangan, bahkan bisa tersinggung. Tetapi sejak sumpah jabatan diucapkan, ada perubahan yang tidak bisa dihindari. Setiap kata yang keluar dari mulut seorang presiden tidak lagi berdiri sebagai pendapat pribadi, melainkan sebagai sikap negara.

Karena itu, semakin tinggi jabatan publik seseorang, semakin kecil ruang baginya untuk berbicara sebagai individu, dan semakin besar kewajibannya untuk berbicara sebagai institusi.

Podium negara bukan ruang percakapan biasa. Dari tempat itu, negara berbicara kepada rakyatnya. Maka pilihan kata seorang presiden tidak hanya mencerminkan karakter pribadi, tetapi juga membentuk wibawa lembaga yang dipimpinnya. Dalam posisi seperti itu, satu kalimat dapat memperjelas arah, tetapi juga dapat mengaburkan pesan yang seharusnya disampaikan.

Confucius pernah mengingatkan bahwa “pemimpin yang luhur bersahaja dalam ucapannya, akan melampaui orang lain dalam tindakannya.” Dalam banyak hal, kebesaran seorang pemimpin justru tidak terletak pada kemampuannya membalas setiap kritik, tetapi pada kemampuannya menunjukkan hasil kerja yang berbicara lebih kuat daripada kata-kata.

Demokrasi sendiri tidak dapat dipisahkan dari kritik. Ia bukan gangguan, melainkan bagian dari mekanisme yang menjaga kekuasaan tetap berada dalam jalur yang semestinya. Kritik mungkin tidak selalu nyaman didengar, tetapi justru dari situlah pemerintah memperoleh ruang untuk mengoreksi diri dan memperbaiki kebijakan.

Ali bin Abi Thalib pernah berpesan, “lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya.” Pesan ini sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam: bahwa setiap ucapan seharusnya lahir dari pertimbangan, bukan dorongan sesaat. Dalam konteks seorang kepala negara, kehati-hatian dalam berbicara bukan hanya soal etika pribadi, tetapi bagian dari tanggung jawab jabatan.

Presiden Prabowo memiliki ruang untuk menunjukkan kualitas kepemimpinan yang merangkul seluruh elemen bangsa, baik yang mendukung maupun yang mengkritik. Akademisi, mahasiswa, media, organisasi masyarakat sipil, maupun kelompok oposisi bukan pihak yang berada di luar negara, melainkan bagian dari masyarakat yang sama-sama memiliki kepedulian terhadap arah perjalanan bangsa.

Pada akhirnya, seorang presiden tidak dipilih untuk memimpin mereka yang selalu setuju dengannya. Ia dipilih untuk memimpin seluruh rakyat Indonesia, termasuk mereka yang berbeda pandangan. Sebab dalam demokrasi, kritik bukanlah ancaman. Yang menjadi ancaman justru ketika kekuasaan tidak lagi bersedia mendengar suara yang berbeda.

Sejarah tidak hanya mencatat kebijakan yang diambil seorang presiden, tetapi juga cara ia berbicara kepada bangsanya. Sebab dari podium negara, yang terdengar bukan sekadar suara seorang individu, melainkan suara Republik Indonesia.

Pos terkait