Bermedia.id – Peresmian kembali Perpustakaan Umum Daerah Nyi Ageng Serang oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, beberapa waktu lalu patut diapresiasi. Setelah sempat ditutup untuk renovasi, perpustakaan itu kembali dibuka sebagai ruang belajar bagi masyarakat. Langkah ini menunjukkan bahwa pembangunan kota tidak hanya berbicara tentang jalan, jembatan, taman, atau gedung-gedung baru, tetapi juga tentang bagaimana menyediakan ruang bagi warganya untuk terus belajar.
Sebab kota yang baik bukan hanya kota yang membangun infrastruktur fisik, melainkan juga kota yang memikirkan perkembangan intelektual warganya. Perpustakaan adalah salah satu simbol bahwa sebuah kota tidak hanya ingin masyarakatnya hidup lebih nyaman, tetapi juga ingin mereka terus bertumbuh.
Namun, di balik peresmian sebuah perpustakaan, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting. Sebenarnya, apa yang ingin kita bangun melalui literasi?
Selama bertahun-tahun, literasi lebih sering dipahami sebagai upaya meningkatkan minat baca masyarakat. Tidak mengherankan jika ukuran keberhasilannya kemudian diidentikkan dengan jumlah buku yang dibaca, banyaknya perpustakaan yang dibangun, atau ramainya kampanye membaca. Semua itu tentu penting. Namun, kalau tujuan literasi berhenti di sana, boleh jadi sejak awal kita memang salah meletakkan sasaran.
Membaca bukanlah tujuan literasi. Membaca hanyalah salah satu jalan untuk belajar.
Tujuan literasi jauh lebih besar daripada sekadar mencetak masyarakat yang gemar membaca. Literasi adalah ikhtiar membangun manusia yang senang belajar, terus memperbaiki dirinya, dan tidak pernah berhenti mengembangkan kemampuannya.
Di sinilah barangkali kita perlu memaknai ulang literasi.
Barangkali selama ini kita terlalu serius memandang literasi. Kita menganggapnya sebagai aktivitas akademik yang melelahkan. Padahal, literasi justru dapat menjadi terapi pengembangan diri yang menyenangkan. Membaca menyegarkan pikiran. Berdiskusi mendewasakan cara pandang. Menulis merapikan gagasan. Berefleksi membantu kita mengenal diri sendiri. Semua itu bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan cara sederhana merawat cara berpikir agar tetap kritis, kreatif, dan logis.
Karena itulah, orang yang berliterasi sesungguhnya sedang menghadiahi dirinya sendiri. Ia tidak membaca demi mengejar jumlah buku. Ia membaca untuk memahami dunia. Ia berdiskusi untuk memperluas perspektif. Ia mencoba hal-hal baru untuk menguji gagasan. Ia menulis untuk menjernihkan pikirannya. Ia berefleksi agar setiap pengalaman berubah menjadi pelajaran. Semua proses itu membuat seseorang tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang dibandingkan hari kemarin.
Inilah sebabnya literasi tidak boleh berhenti sebagai gerakan gemar membaca. Yang jauh lebih penting adalah membangun kegemaran belajar. Sebab orang yang senang belajar akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk berkembang. Buku menjadi sahabatnya, tetapi bukan satu-satunya sumber belajar. Pengalaman menjadi gurunya. Diskusi menjadi ruang bertumbuhnya. Kesalahan menjadi bahan refleksinya.
Karena itu, tantangan terbesar kita sesungguhnya bukan sekadar meningkatkan minat baca masyarakat. Tantangan yang jauh lebih mendasar adalah membangun suasana yang membuat orang senang belajar. Lingkungan keluarga, sekolah, kampus, tempat kerja, komunitas, media, hingga ruang-ruang publik harus menjadi bagian dari ekosistem yang membuat belajar terasa menyenangkan, bukan menakutkan.
Sudah saatnya kita berhenti memandang literasi semata sebagai sebuah gerakan. Yang jauh lebih penting adalah membangun sebuah ekosistem yang membuat orang senang belajar. Sebab gerakan dapat mengundang partisipasi, tetapi hanya ekosistem yang mampu menumbuhkan kebiasaan.
Ketika seseorang menikmati proses belajar, ia akan membaca tanpa dipaksa, bertanya tanpa malu, berdiskusi tanpa marah, berpikir tanpa takut, mencoba tanpa khawatir gagal, dan terus mengembangkan dirinya sepanjang hayat. Dari kebiasaan itulah lahir manusia yang kritis tanpa kehilangan kerendahan hati, kreatif tanpa kehilangan akal sehat, serta logis tanpa kehilangan empati.
Pada akhirnya, keberhasilan literasi tidak diukur dari seberapa banyak buku yang berhasil dibaca masyarakat. Keberhasilannya diukur dari seberapa banyak manusia yang terus bertumbuh. Sebab tujuan literasi bukan mencetak orang yang gemar membaca. Tujuan literasi adalah membangun ekosistem yang membuat manusia menikmati proses belajar, merawat cara berpikirnya, dan terus berkembang sepanjang hayat. Di situlah literasi menemukan makna terbaiknya.






