Anggaran Dipotong Drastis, Perpustakaan Meringis

Ilustrasi salah satu sudut perpustakaan (Foto Deeppublishing)
Ilustrasi salah satu sudut perpustakaan (Foto Deeppublishing)

Bermedia.id – Pemotongan anggaran Perpustakaan Nasional hingga berujung pada dihentikannya program pembagian buku kepada masyarakat sontak memunculkan kekhawatiran. Di tengah upaya meningkatkan budaya literasi, keputusan itu dipandang sebagai kemunduran. Wajar. Selama ini perpustakaan ditempatkan sebagai garda terdepan dalam memperluas akses bacaan. Ketika anggarannya dipangkas drastis, yang terbayang adalah semakin jauhnya masyarakat dari buku.

Namun, jangan sampai kita ikut salah mendiagnosis persoalannya.

Bacaan Lainnya

Sebab, jika masa depan literasi Indonesia benar-benar bergantung pada program pembagian buku, berarti fondasi literasi kita sesungguhnya masih rapuh. Buku memang penting. Tidak ada yang membantahnya. Tetapi sejarah tidak pernah menunjukkan bahwa banyaknya buku secara otomatis melahirkan masyarakat pembelajar. Yang melahirkan budaya belajar bukan sekadar keberadaan buku, melainkan tumbuhnya rasa ingin tahu.

Di situlah persoalan perpustakaan Indonesia sesungguhnya berada.

Selama puluhan tahun, kita membangun perpustakaan dengan paradigma yang nyaris tidak berubah. Rak-rak buku terus bertambah, koleksi terus diperbanyak, gedung diperluas, bahkan layanan didigitalisasi. Namun, citra perpustakaan tetap saja berjalan di tempat. Bagi sebagian besar masyarakat, perpustakaan masih identik dengan ruangan yang sunyi, penuh aturan, dan nyaris tanpa percakapan. Tempat yang hanya didatangi ketika ada tugas sekolah, skripsi, atau kebutuhan administratif lainnya.

Ironisnya, ketika hampir semua informasi kini dapat diakses melalui telepon genggam dalam hitungan detik, banyak perpustakaan masih menawarkan pengalaman yang sama seperti tiga puluh tahun lalu. Kita sibuk memperbarui koleksi, tetapi lupa memperbarui cara orang mengalami perpustakaan.

Barangkali yang perlu direnovasi bukan hanya gedung perpustakaan, melainkan citra perpustakaan itu sendiri.

Lihatlah bagaimana beberapa negara mendefinisikan ulang fungsi perpustakaan. Di Helsinki, Finlandia, Perpustakaan Oodi lebih menyerupai ruang keluarga publik daripada sekadar tempat meminjam buku. Orang datang untuk berdiskusi, bekerja, membuat konten digital, menggunakan printer tiga dimensi, mengikuti lokakarya, hingga menikmati ruang bersama.

Di Aarhus, Denmark, Dokk1 menjadi pusat aktivitas masyarakat, tempat anak-anak bermain sambil belajar, komunitas bertemu, dan warga mengikuti pelatihan keterampilan. Sementara di London, konsep “Idea Store” bahkan meninggalkan istilah “library“. Yang dijual bukan lagi koleksi buku, melainkan ide, keterampilan, jejaring, dan kesempatan untuk berkembang.

Ketiganya memiliki satu kesamaan. Mereka berhenti bertanya, “Bagaimana membuat orang membaca lebih banyak?” Mereka mengganti pertanyaannya menjadi, “Bagaimana membuat orang ingin datang, belajar, berdiskusi, berkarya, lalu kembali lagi?”

Perbedaannya tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat besar.

Paradigma pertama menempatkan buku sebagai pusat perpustakaan. Paradigma kedua menempatkan manusia sebagai pusatnya.

Di sinilah perpustakaan Indonesia perlu naik kelas.

Perpustakaan tidak lagi cukup menjadi ruang dokumentasi atau gudang pengetahuan. Ia harus bertransformasi menjadi ruang yang membuat orang ingin belajar. Tempat yang mempertemukan gagasan, melahirkan komunitas, mengasah keterampilan, mendorong kolaborasi, dan menumbuhkan kreativitas. Sebab di era digital, yang paling langka bukan lagi informasi, melainkan rasa ingin tahu.

Karena itu, keberhasilan perpustakaan tidak semestinya lagi diukur dari jumlah koleksi, luas bangunan, atau banyaknya buku yang dipinjam. Ukuran yang jauh lebih penting adalah berapa banyak orang yang menemukan ide baru, memperoleh keterampilan baru, membangun jejaring baru, atau pulang dengan semangat baru untuk belajar.

Lebih jauh lagi, kita juga perlu berhenti memandang perpustakaan sebagai tujuan akhir gerakan literasi. Perpustakaan hanyalah satu simpul dalam ekosistem belajar yang jauh lebih besar. Ia harus terhubung dengan keluarga yang menanamkan kebiasaan membaca sejak dini, sekolah yang membangun daya pikir kritis, komunitas yang menghidupkan tradisi berdiskusi, dunia usaha yang membuka ruang pengembangan keterampilan, ruang digital yang memperluas akses pengetahuan, hingga masyarakat yang menjadikan belajar sebagai bagian dari gaya hidup.

Ketika seluruh simpul itu saling terhubung, perpustakaan tidak lagi berdiri sebagai bangunan yang sunyi. Ia menjadi jantung yang memompa pengetahuan ke seluruh sendi kehidupan.

Karena itulah, pemotongan anggaran Perpustakaan Nasional seharusnya tidak hanya dibaca sebagai persoalan fiskal. Peristiwa ini semestinya menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali arah pembangunan perpustakaan di Indonesia. Krisis sering kali memaksa kita meninggalkan cara lama yang tidak lagi memadai. Mungkin inilah saat yang tepat untuk membangun perpustakaan yang bukan hanya menyimpan buku, tetapi juga menyalakan rasa ingin tahu.

Pada akhirnya, sebuah bangsa tidak dibangun oleh banyaknya buku yang tersusun rapi di atas rak. Sebuah bangsa dibangun oleh banyaknya manusia yang tidak pernah berhenti belajar. Dan perpustakaan yang hebat bukanlah perpustakaan yang memiliki koleksi paling lengkap, melainkan perpustakaan yang paling berhasil membuat orang ingin kembali belajar.

Pos terkait