Trust: Pilar Etika Bisnis Islam

Pedagang dan pembeli sedang bertransaksi jual beli (foto Muslimah or id)
Pedagang dan pembeli sedang bertransaksi jual beli (foto Muslimah or id)

Bermedia.id – Tidak semua orang sedang menikmati kemudahan hidup. Di balik ramainya pusat perbelanjaan dan geliat ekonomi digital, masih banyak kepala keluarga yang berjuang keras memenuhi kebutuhan rumah tangga. Harga kebutuhan pokok yang terus bergerak, persaingan usaha yang semakin ketat, serta ketidakpastian ekonomi membuat banyak orang harus bekerja lebih lama demi menghidupi keluarga.

Dalam situasi seperti ini, godaan untuk menghalalkan segala cara demi memperoleh keuntungan menjadi semakin besar. Sebagian orang tergoda menaikkan harga secara berlebihan, mengurangi kualitas barang, bahkan memanfaatkan ketidaktahuan pembeli. Padahal, seorang Muslim diajarkan bahwa keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari besarnya laba, tetapi juga dari keberkahan yang menyertainya.

Bacaan Lainnya

Islam menempatkan kejujuran sebagai fondasi utama dalam aktivitas ekonomi. Rasulullah saw bahkan memberikan kedudukan yang sangat mulia kepada para pedagang yang menjaga amanah. Beliau bersabda:
التَّاجِرُ الأَمِينُ الصَّدُوقُ الْمُسْلِمُ مَعَ الشُّهَدَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Seorang pedagang muslim yang jujur dan amanah akan bersama para syuhada pada hari kiamat.”

Hadis ini menunjukkan bahwa berdagang bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga ladang ibadah apabila dijalankan dengan penuh kejujuran.

Salah satu figur teladan dalam hal ini adalah Yunus bin Ubaid, seorang saudagar perhiasan yang dikenal karena integritasnya. Suatu hari, beliau menitipkan tokonya kepada sang keponakan karena hendak menunaikan shalat. Kesibukan mencari rezeki tidak pernah membuatnya lalai memenuhi panggilan Allah.

Ketika Yunus tidak berada di toko, datang seorang Badui yang ingin membeli sebuah perhiasan. Keponakannya menjual barang tersebut seharga 400 dirham, padahal harga sebenarnya hanya 200 dirham. Tanpa menawar, sang Badui langsung membayar dan pergi dengan perasaan puas.

Di tengah perjalanan, Badui itu bertemu dengan Yunus bin Ubaid. Setelah mengetahui harga yang dibayarkan, Yunus segera berkata,
“Harga sebenarnya hanya dua ratus dirham. Mari kembali ke toko agar aku mengembalikan kelebihan uangmu.”

Sang Badui menolak. Menurutnya, harga itu tetap menguntungkan karena di daerah asalnya barang serupa dijual lebih mahal.

Namun bagi Yunus, kerelaan pembeli bukan alasan untuk mengambil keuntungan yang tidak semestinya. Ia tetap mengajak Badui itu kembali ke tokonya hingga akhirnya kelebihan uang tersebut dikembalikan.

Setelah itu, Yunus menegur keponakannya,
“Tidakkah engkau merasa malu dan takut kepada Allah karena menjual barang itu dengan harga dua kali lipat?”

Keponakannya menjawab,
“Demi Allah, ia rela membelinya.”

Yunus pun memberikan pelajaran yang sangat berharga,
“Benar. Tetapi kita memikul amanah untuk memperlakukan saudara kita sebagaimana kita ingin diperlakukan.”

Inilah akhlak para salafus shalih. Mereka tidak menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama, melainkan ridha Allah. Mereka lebih takut kehilangan keberkahan daripada kehilangan laba.

Di tengah kompetisi ekonomi yang semakin keras, kisah Yunus bin Ubaid mengingatkan kita bahwa kejujuran bukanlah kelemahan dalam bisnis, melainkan investasi jangka panjang yang melahirkan kepercayaan, keberkahan, dan ketenangan hati.

Sebab pada akhirnya, bukan banyaknya harta yang menentukan kebahagiaan seseorang, melainkan sejauh mana Allah meridhai cara harta itu diperoleh. Keuntungan dapat habis, tetapi keberkahan akan terus mengalir. Dan ridha Allah adalah kekayaan yang tak pernah kehilangan nilainya.

Sumber: Syurūq al-Anwār as-Ṣamadiyyah.

Aidil Heryana

 

 

Penulis:
Aidil Heryana, ME
Pegiat Ekonomi Kerakyatan

Pos terkait