Hijrah Finansial, Why Not?

Pedagang dan pembeli sedang melakukan transaksi (Foto DBS)

Bermedia.id – Jika kita berbicara tentang hijrah finansial maka sesungguhnya kita sedang berbicara tentang perpindahan peradaban (intiqal hadari), bukan sekadar perpindahan instrumen.

Hijrah dari sistem yang tidak sepenuhnya berkeadilan, menuju sistem yang lebih adil, lebih etis, dan lebih membawa maslahat.

Bacaan Lainnya

Hijrah selalu dimulai dari kesadaran, dilanjutkan dengan keberanian, dan disempurnakan dengan istiqamah. Para ulama telah memberikan panduan yang sangat mendalam tentang bagaimana seharusnya sistem ekonomi dibangun.

Sejak dahulu para Ulama telah mengingatkan bahwa kerusakan ekonomi adalah awal dari kerusakan sosial. Salah satunya tentang riba. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa riba bukan hanya pelanggaran
hukum, tetapi:

مُفْسِدُ لِنظامِ الْمُعَامَلَاتِ وَمُهْلِكَ لِلْعَدالة.
“Perusak sistem muamalah dan penghancur keadilan.”

Kita tahu bahwa riba, gharar, serta maysir adalah bentuk kezaliman dalam ekonomi. Maka ketika kita membangun keuangan syariah, kita tidak sedang membangun “simbol keislaman”, tetapi sedang membangun fondasi keadilan itu sendiri. Maka hijrah finansial adalah upaya mengembalikan ruh keadilan dalam ekonomi.

Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa ekonomi berbasis nilai sebagai fondasi peradaban,

الظلم مؤذن بخراب العمران
“Kezaliman adalah tanda kehancuran peradaban.”

Dalam Islam, ekonomi bukan sekadar aktivitas duniawi, tapi bagian dari ibadah. Setiap transaksi akan dimintai pertanggung jawaban. Imam Al-Qarafı menyatakan:

الأصل في المعاملات تحقيق العدل ورفع الظلم
“Prinsip dasar dalam muamalah adalah mewujudkan keadilan dan menghilangkan kezaliman.”

Maka ketika kita memilih sistem keuangan syariah, pada hakekatnya kita sedang memilih nilai, keberpihakan, serta memilih apakah kita ingin adil atau zalim.

Dan jika kita tidak membangun sistem ekonomi yang adil, maka kita akan terus menjadi korban dari sistem yang tidak adil.

Inilah saatnya hijrah finansial bukan hanya menjadi wacana, tetapi gerakan. Bukan hanya menjadi pilihan, tetapi komitmen.

 

Aidil Heryana

 

 

Penulis:
Aidil Heryana, ME
Pemerhati Ekonomi Kerakyatan

 

Pos terkait