Bermedia.id – Tanggal kembar selalu ditunggu. Keranjang belanja digital mendadak penuh. Jutaan paket dikirim ke berbagai penjuru negeri. Kita menikmati sensasi menjadi pembeli. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, muncul satu pertanyaan yang jarang kita ajukan: siapa yang memproduksi semua barang yang kita beli?
“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini lazim dipahami sebagai anjuran untuk gemar bersedekah. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, Rasulullah Saw sedang membangun sebuah paradigma ekonomi. Islam menginginkan umatnya menjadi pihak yang memberi, bukan sekadar menerima; menjadi produsen, bukan hanya konsumen.
Pertanyaannya, sudahkah kita mengarah ke sana?
Hari ini, umat hidup di tengah arus konsumerisme yang semakin kuat. Hampir setiap bulan hadir festival belanja dengan berbagai potongan harga. Media sosial dipenuhi promosi, ulasan produk, hingga gaya hidup yang mendorong orang membeli lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Ukuran keberhasilan sering kali bergeser: bukan lagi pada apa yang dihasilkan, melainkan pada apa yang dimiliki.
Secara ekonomi, konsumsi memang penting. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama perekonomian Indonesia dengan kontribusi lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB). Artinya, roda ekonomi bergerak karena masyarakat berbelanja.
Namun, sejarah membuktikan bahwa tidak ada bangsa yang menjadi maju hanya karena gemar mengonsumsi. Kemajuan lahir ketika masyarakat mampu memproduksi, menciptakan inovasi, dan menghadirkan nilai tambah.
Di sinilah letak persoalannya. Kita bangga ketika pusat perbelanjaan penuh pengunjung, tetapi jarang bertanya berapa banyak produk yang lahir dari tangan anak bangsa. Kita antusias menyambut peluncuran produk baru, tetapi kurang memberi perhatian kepada lahirnya pelaku usaha baru. Kita sibuk membandingkan harga barang, tetapi belum banyak membicarakan bagaimana menciptakan barang yang bernilai.
Konsumerisme tidak selalu salah. Yang berbahaya adalah ketika konsumsi menjadi tujuan hidup, sementara produksi dipandang sebagai pilihan segelintir orang. Akibatnya, masyarakat menjadi pasar yang besar, tetapi tidak memiliki kekuatan yang sepadan dalam menciptakan kekayaan.
Islam menawarkan paradigma yang berbeda. Rasulullah Saw adalah seorang pedagang yang terpercaya. Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf adalah saudagar-saudagar sukses yang menjadikan kekayaannya sebagai jalan pengabdian kepada Allah. Mereka tidak hanya menikmati hasil ekonomi, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi yang menghidupi banyak orang.
Karena itu, zakat, infak, sedekah, dan wakaf tidak lahir dari masyarakat yang pasif. Filantropi Islam bertumpu pada umat yang produktif. Semakin banyak orang menghasilkan nilai, semakin besar pula manfaat yang dapat dibagikan kepada masyarakat.
Perubahan besar selalu dimulai dari lingkungan terkecil. Orang tua perlu mengajarkan anak bukan hanya cara membelanjakan uang, tetapi juga cara memperoleh rezeki yang halal melalui kerja keras, kreativitas, dan kewirausahaan. Sekolah hendaknya tidak hanya melahirkan pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja. Masjid dan pesantren pun dapat menjadi ruang lahirnya pelaku usaha yang jujur, amanah, dan profesional.
Pada akhirnya, pilihan berada di tangan kita. Apakah kita akan terus menjadi pasar yang sibuk membeli hasil karya orang lain, atau mulai menjadi umat yang menghasilkan karya untuk dunia?
Peradaban Islam tidak dibangun oleh generasi yang gemar menghabiskan nilai, melainkan oleh generasi yang mampu menciptakan nilai. Mereka berdagang dengan amanah, bertani dengan tekun, berkarya dengan ilmu, lalu mengembalikan hasilnya untuk kejayaan umat.
“Konsumerisme membuat uang berpindah tangan. Produksi membuat peradaban berpindah zaman.”

Penulis
Aidil Heryana, ME
Pegiat Ekonomi Kerakyatan






