Ketika Kredibilitas Lembaga Pendidikan Jadi Bahan Bercandaan

Siswa dan siswi sekolah atas sedang mengikuti kegiatan (Foto JPNN)
Siswa dan siswi sekolah atas sedang mengikuti kegiatan (Foto JPNN)

Bermedia.id – Ada sesuatu yang terasa mengganggu ketika pejabat negara mulai berbicara tentang pendidikan dengan nada yang justru mengecilkan arti pendidikan itu sendiri.

Belakangan ini muncul sejumlah pernyataan pejabat yang menempatkan pendidikan formal seolah bukan sesuatu yang terlalu penting. Salah satunya adalah pandangan bahwa kecerdasan seseorang tidak ditentukan oleh sekolah atau kampus tempatnya belajar. Pernyataan semacam itu mungkin benar jika dimaksudkan untuk mengatakan bahwa ijazah dan nama besar institusi pendidikan bukan satu-satunya ukuran kualitas manusia.

Bacaan Lainnya

Tetapi persoalannya bukan semata-mata benar atau salahnya kalimat tersebut.

Persoalannya adalah pesan apa yang ditangkap masyarakat ketika pernyataan itu keluar dari mulut pengelola negara?

Ada perbedaan besar antara mengatakan bahwa pendidikan bukan satu-satunya faktor pembentuk kecerdasan dengan mengatakan, secara tersirat, bahwa pendidikan tidak terlalu penting.

Yang pertama adalah kenyataan. Yang kedua adalah kekeliruan yang berbahaya.

Tidak semua orang cerdas lahir dari sekolah ternama. Tidak semua lulusan kampus terkenal otomatis menjadi manusia hebat. Sejarah bahkan penuh dengan orang-orang besar yang keberhasilannya tidak semata-mata ditentukan oleh almamater mereka.

Tetapi dari kenyataan itu tidak pernah boleh ditarik kesimpulan bahwa pendidikan dapat diremehkan.

Sebab pendidikan bukan sekadar tempat memperoleh ijazah.

Pendidikan adalah proses membangun cara berpikir, mengembangkan pengetahuan, melatih kemampuan memecahkan masalah, mengenalkan manusia pada ilmu pengetahuan, membentuk karakter, dan memperluas cakrawala seseorang dalam memahami dunia.

Lebih jauh lagi, pendidikan adalah cara sebuah bangsa menyiapkan generasi yang akan mengelola masa depannya.

Karena itu, meremehkan pendidikan bukan sekadar meremehkan sekolah atau kampus. Ia berpotensi meremehkan proses panjang sebuah bangsa dalam membangun kualitas manusianya.

Bank Dunia bahkan menempatkan pengetahuan dan keterampilan sebagai bagian penting dari modal manusia yang berhubungan langsung dengan produktivitas, pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan. Sekolah memang bukan satu-satunya tempat manusia belajar, tetapi pendidikan formal tetap memainkan peran penting dalam membangun kemampuan kognitif maupun keterampilan yang dibutuhkan masyarakat.

Maka kita perlu berhati-hati dengan romantisme tentang orang sukses yang tidak berasal dari sekolah atau kampus terkenal.

Kisah semacam itu boleh menjadi inspirasi. Tetapi jangan sampai ia berubah menjadi pembenaran bahwa sekolah tidak penting, kampus tidak penting, gelar tidak penting, atau kredibilitas lembaga pendidikan boleh dipandang sebelah mata.

Justru negara harus melakukan hal sebaliknya.

Negara harus memastikan lembaga pendidikan memiliki standar yang kredibel. Guru dan dosen harus dihormati profesionalismenya. Perguruan tinggi harus dijaga mutu akademiknya. Penelitian harus dihargai. Gelar akademik harus memiliki legitimasi. Dan masyarakat harus percaya bahwa proses pendidikan memiliki standar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebab bagaimana mungkin kita ingin membangun bangsa berbasis pengetahuan jika pada saat yang sama lembaga yang memproduksi pengetahuan justru diperlakukan seolah tidak terlalu penting?

Bagaimana mungkin kita meminta anak-anak belajar dengan sungguh-sungguh jika para pemimpin mereka memberikan kesan bahwa keberhasilan dapat dicapai tanpa perlu terlalu menghargai pendidikan?

Inilah yang seharusnya menjadi perhatian.

Seorang kepala negara boleh mengatakan bahwa kecerdasan tidak hanya lahir dari sekolah. Tetapi seorang kepala negara juga harus memahami bahwa negara modern tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang merasa dirinya cerdas. Negara dibangun oleh pengetahuan yang diuji, ilmu yang dikembangkan, kompetensi yang dilatih, dan institusi yang kredibel.

Pembangunan jalan membutuhkan insinyur. Pengobatan membutuhkan dokter dan peneliti. Kebijakan ekonomi membutuhkan pengetahuan ekonomi. Teknologi membutuhkan ilmuwan dan teknolog. Pendidikan membutuhkan guru yang kompeten. Hukum membutuhkan ahli hukum. Dan hampir setiap keputusan besar negara membutuhkan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Tidak ada bangsa maju yang membangun masa depannya dengan meremehkan ilmu pengetahuan.

Karena itu, persoalan pendidikan tidak boleh dipersempit menjadi soal siapa yang sekolah di mana atau siapa yang memiliki gelar apa.

Pendidikan jauh lebih besar daripada itu.

Ia adalah investasi peradaban.

UNESCO menempatkan pendidikan sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan, sementara berbagai kajian pembangunan menempatkan kualitas modal manusia sebagai salah satu penentu masa depan ekonomi dan produktivitas sebuah negara.

Maka, jika ada lembaga pendidikan yang buruk, perbaiki.

Jika ada kampus yang tidak kredibel, benahi.

Jika ada gelar yang diperoleh melalui proses yang tidak patut, selidiki.

Jika sistem pendidikan gagal menghasilkan pembelajaran yang baik, reformasi.

Tetapi jangan karena ada kelemahan dalam dunia pendidikan, lalu pendidikan itu sendiri direndahkan.

Yang harus dikritik adalah buruknya pendidikan, bukan hakikat pentingnya pendidikan.

Dan di sinilah para pengelola negara perlu lebih berhati-hati dalam berbicara.

Sebab masyarakat mungkin masih bisa memaklumi seorang pejabat yang keliru membaca sebuah angka. Tetapi ketika yang diremehkan adalah pendidikan, yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar sebuah pernyataan.

Yang dipertaruhkan adalah cara sebuah bangsa memandang masa depannya sendiri.

Jangan sampai kita ingin menjadi bangsa maju, tetapi justru mulai kehilangan penghormatan kepada sekolah, kampus, ilmu pengetahuan dan orang-orang yang mengabdikan hidupnya untuk mendidik.

Sebab bangsa yang meremehkan pendidikan pada akhirnya sedang meremehkan generasi yang akan menggantikannya.

Pos terkait