Betawi yang Terjebak dalam Bingkai Kenangan

Topeng Blantek Betawi (Foto Etnis-id)
Topeng Blantek Betawi (Foto Etnis-id)

Bermedia.id – Setiap kali Hari Ulang Tahun Jakarta tiba, wajah Betawi kembali memenuhi ruang-ruang publik. Ondel-ondel tampil di panggung perayaan. Tanjidor dimainkan. Gambang kromong diperdengarkan. Lenong dipentaskan. Semua seolah mengingatkan bahwa Jakarta memiliki akar budaya yang khas.

Namun di tengah kemeriahan itu, ada pertanyaan yang mungkin terasa kurang nyaman untuk diajukan: apakah kesenian Betawi hari ini masih hidup, atau sekadar dipertontonkan agar terlihat hidup?

Bacaan Lainnya

Pertanyaan ini penting karena Betawi bukanlah suku yang lahir dari satu akar budaya tunggal. Sejarah mencatat bahwa masyarakat Betawi terbentuk dari perjumpaan panjang berbagai etnis dan bangsa. Ada unsur Melayu, Sunda, Jawa, Arab, Tionghoa, Bugis, Bali, hingga Eropa yang berbaur selama berabad-abad di Batavia. Dari rahim percampuran itulah lahir identitas Betawi.

Secara teoritis, warisan seperti itu seharusnya menjadi modal budaya yang luar biasa besar. Masyarakat yang terbentuk dari banyak pengaruh biasanya memiliki daya cipta yang tinggi. Ragam keseniannya kaya, bentuk ekspresinya beragam, dan kemampuan beradaptasinya kuat. Budaya yang lahir dari perjumpaan umumnya lebih lentur menghadapi perubahan zaman.

Sayangnya, yang kita saksikan hari ini justru sering kali sebaliknya.

Ambil contoh lenong. Sebagai seni pertunjukan rakyat, lenong pernah menjadi ruang kreativitas yang hidup. Ia dekat dengan masyarakat, penuh improvisasi, dan mampu menyerap berbagai persoalan sosial yang sedang berkembang. Namun kini pertunjukannya semakin jarang ditemukan. Regenerasi pemain berjalan lambat. Inovasi cerita terbatas. Bahkan teknologi panggung dan kemasan pertunjukannya tidak banyak berubah dibandingkan puluhan tahun lalu.

Fenomena serupa tampak dalam dunia musik Betawi. Nama Benyamin Sueb masih berdiri sebagai gunung besar yang sulit dilewati generasi sesudahnya. Masalahnya bukan karena Benyamin terlalu hebat. Justru karena terlalu banyak yang memilih menjadi bayang-bayang Benyamin.

Hari ini tidak sulit menemukan penyanyi Betawi yang meniru gaya bicara, cara bernyanyi, cara berpakaian, bahkan ekspresi panggung Benyamin. Seolah-olah ukuran ke-Betawi-an seseorang ditentukan oleh seberapa mirip dirinya dengan Benyamin Sueb.

Padahal Benyamin sendiri menjadi besar bukan karena meniru siapa pun. Ia menjadi legenda karena keberaniannya menciptakan sesuatu yang baru. Ia menyerap zamannya, mengolah pengaruh yang datang dari berbagai arah, lalu melahirkan karya yang khas. Jika semangat Benyamin hendak diwariskan, yang perlu ditiru bukan gayanya, melainkan keberaniannya untuk berinovasi.

Kondisi serupa dapat ditemukan di berbagai cabang kesenian Betawi lainnya. Banyak energi dihabiskan untuk menjaga bentuk lama agar tetap utuh, tetapi terlalu sedikit upaya untuk melahirkan bentuk baru. Akibatnya, kebudayaan lebih sering diposisikan sebagai benda warisan yang harus dijaga daripada sebagai organisme hidup yang harus terus tumbuh.

Di sinilah letak persoalan yang lebih mendasar.

Masalah terbesar kesenian Betawi bukan kekurangan seniman, melainkan kelebihan penjaga.

Kita memiliki banyak orang yang siap menjaga apa yang sudah ada. Kita memiliki banyak pihak yang rela menggelar festival, membuat perayaan, atau memamerkan simbol-simbol budaya. Semua itu tentu penting. Tetapi kebudayaan tidak akan hidup hanya karena dirawat. Kebudayaan hidup karena terus diciptakan.

Bahasa Indonesia tidak bertahan karena setiap tahun diperingati dalam Bulan Bahasa. Ia hidup karena setiap hari digunakan untuk menulis novel, membuat film, menciptakan lagu, dan melahirkan istilah-istilah baru. Musik dangdut tidak menjadi salah satu musik paling populer di Indonesia karena dijaga dalam bentuk aslinya. Ia bertahan karena terus berubah, terus bereksperimen, dan terus menemukan bentuk-bentuk baru yang sesuai dengan zamannya.

Budaya yang hidup selalu bergerak. Sebaliknya, budaya yang hanya dipamerkan perlahan akan berubah menjadi kenangan.

Karena itu, pelestarian budaya Betawi tidak boleh berhenti pada konservasi. Ia harus bergerak menuju produksi. Bukan hanya menjaga yang lama, tetapi juga menciptakan yang baru.

Pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi sekadar bagaimana menjaga lenong, tari topeng, ondel-ondel, pantun Betawi, kuliner dan bentuk kebudayaan lain agar tidak punah. Pertanyaan yang perlu dikedepankan adalah bagaimana membuat kebudayaan adiluhung itu kembali menjadi sumber kreativitas dan bagian dari kehidupan masyarakat.

Pertanyaan itu bukan bentuk ketidaksetiaan terhadap tradisi. Justru sebaliknya. Sebab tradisi yang sehat tidak takut pada pembaruan. Tradisi yang sehat memiliki cukup kepercayaan diri untuk berdialog dengan zamannya.

Padahal sejarah Betawi sendiri mengajarkan hal yang berbeda dari apa yang sering kita praktikkan hari ini. Betawi lahir karena kemampuan menyerap pengaruh luar tanpa kehilangan identitasnya. Dengan kata lain, inovasi sesungguhnya bukan ancaman bagi budaya Betawi. Inovasi justru merupakan bagian dari DNA budaya Betawi itu sendiri.

Para leluhur Betawi dahulu bukan sekadar penjaga tradisi. Mereka adalah pencipta tradisi. Mereka mengambil unsur Arab, Tionghoa, Melayu, Sunda, Jawa, dan Eropa, lalu mengolah semuanya menjadi sesuatu yang baru bernama Betawi. Mereka tidak mewariskan sebuah bentuk budaya yang beku. Mereka mewariskan kemampuan menciptakan budaya.

Karena itu, perayaan ulang tahun Jakarta seharusnya tidak hanya menjadi momentum untuk menampilkan kesenian Betawi, tetapi juga untuk mengevaluasi masa depannya. Apakah kita hanya ingin mewariskan kenangan tentang Betawi kepada generasi berikutnya, atau mewariskan kebudayaan Betawi yang benar-benar hidup?

Sebab kebudayaan tidak pernah mati karena perubahan. Kebudayaan mati ketika berhenti menciptakan perubahan.

Dan mungkin autokritik yang paling penting untuk diajukan pada ulang tahun Jakarta kali ini adalah bahwa Betawi sedang kehilangan keberanian untuk menjadi Betawi.

Sebab menjadi Betawi sejak awal bukan berarti menjaga kemurnian tradisi, melainkan berani menyerap zaman dan mengubahnya menjadi identitas baru.

Jika keberanian itu tidak kembali ditemukan, maka yang tersisa mungkin hanya perayaan-perayaan budaya yang meriah setiap bulan Juni. Ramai panggungnya. Banyak kostumnya. Penuh simbol-simbol Betawi.

Tetapi kebudayaannya sendiri perlahan kehilangan daya hidup.

Dan bagi sebuah masyarakat yang lahir dari kreativitas percampuran budaya, mungkin tidak ada ironi yang lebih menyedihkan daripada itu.

Pos terkait