Bermedia.id – Di setiap rezim, selalu ada satu makhluk sosial yang daya adaptasinya luar biasa: ia tidak terlalu pintar, tidak selalu paling kompeten, tapi entah bagaimana selalu berada di foto paling depan. Ia tidak perlu banyak prestasi—cukup satu keahlian utama: membaca arah angin kekuasaan, lalu menyesuaikan ekspresi wajah.
Dalam literatur etika Islam, fenomena ini tidak diberi nama yang romantis. Ia dikenal dekat dengan istilah Tazalluf—seni mendekat kepada penguasa melalui pujian yang kadang lebih kreatif daripada jujur. Kalau ada lomba nasional, mungkin ini cabang yang paling ramai pesertanya.
Pujian yang Tidak Pernah Salah Sasaran
Dalam dunia tazalluf, kebenaran itu fleksibel. Hari ini bisa A, besok bisa B—tergantung siapa yang duduk di kursi kekuasaan. Yang menarik, pelakunya jarang merasa sedang melakukan sesuatu yang problematik. Mereka menyebutnya “strategi komunikasi”, “etika birokrasi”, atau istilah paling aman: “menjaga hubungan baik.” Padahal dalam bahasa moral yang lebih jujur, itu adalah seni menghindari risiko dengan cara paling halus: selalu setuju dengan yang berkuasa.
Al-Qur’an sudah lama mengingatkan, “Janganlah kamu mencampuradukkan yang hak dengan yang batil dan menyembunyikan kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 42)
Tapi tentu, ayat seperti ini sering kalah populer dibanding kalimat pembuka sambutan yang dimulai dengan: “Kami sangat mengapresiasi kebijakan Bapak/Ibu…”
Ekosistem Pujian: Subur, Lestari, dan Terawat
Tazalluf tidak tumbuh liar. Ia biasanya tumbuh subur di ekosistem yang sangat kondusif: ada kekuasaan, ada kepentingan, dan ada banyak orang yang tidak ingin repot. Di ekosistem ini, informasi bergerak satu arah: ke atas, dalam bentuk pujian. Sementara kritik? Biasanya tersesat di ruang rapat, atau berubah bentuk menjadi “catatan internal yang tidak perlu dibesar-besarkan.”
Akibatnya, penguasa sering kali hidup dalam ruang gema yang nyaman. Semua terdengar baik. Semua terlihat sukses. Semua berjalan sesuai rencana—setidaknya di laporan. Sampai kenyataan datang tanpa undangan.
Para Penjaga “Kenyamanan Moral”
Dalam tradisi Islam, ulama besar seperti Al-Ghazali hingga Ibnu Taimiyah tidak asing dengan kritik terhadap sikap mendekati kekuasaan demi dunia. Namun sejarah selalu punya ironi: setiap zaman punya cukup banyak orang yang mengutip kebenaran—tapi hanya ketika tidak ada risiko sosial atau politik.
Nabi Muhammad ﷺ bahkan menempatkan keberanian berkata benar di hadapan kekuasaan sebagai puncak moralitas, “Kata-kata benar di hadapan penguasa yang zalim.”
Sayangnya, dalam praktik modern, itu sering berubah menjadi: kata-kata aman di hadapan penguasa, apa pun kondisinya.
Harga Diskon untuk Integritas
Tazalluf bekerja dengan logika sederhana: integritas itu mahal, tetapi bisa didiskon. Diskonnya bisa berupa jabatan, akses, proyek, atau sekadar “kedekatan.” Tidak ada yang benar-benar gratis—kecuali satu hal: kehilangan keberanian untuk jujur.
Al-Qur’an sudah lama menyindir model transaksi ini: “Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk…” (QS. Al-Baqarah: 16)
Dalam versi modernnya mungkin berbunyi: membeli kenyamanan dengan kebenaran.
Di Antara Pujian dan Kejujuran
Tazalluf tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berganti bentuk, bahasa, dan platform. Dulu hadir di balairung istana, kini bisa muncul di ruang rapat, media sosial, hingga caption resmi yang serba hati-hati. Yang tetap sama adalah satu hal: selalu ada orang yang memilih aman dengan cara paling tidak berisiko—menjadi cermin yang selalu setuju dengan apa pun yang berdiri di depannya.
Padahal, ukuran moralitas bukan seberapa dekat seseorang dengan kekuasaan, tetapi seberapa sering ia masih mampu berkata tidak ketika semua orang memilih berkata iya. Dan itu, dalam banyak konteks, jauh lebih sulit daripada sekadar menjadi “orang dekat.”






