Hari Bidan Nasional: Dari Layanan Kesehatan Dasar ke Arsitektur Gizi Nasional

Ilustrasi ibu hamil dan bidan (Foto-Getty Image)
Ilustrasi ibu hamil dan bidan (Foto-Getty Image)

Bermedia.id – Peringatan Hari Bidan Nasional setiap 24 Juni kembali menghadirkan refleksi yang lebih luas dari sekadar seremonial profesi. Di balik momentum tersebut, terdapat peran strategis bidan dalam salah satu agenda pembangunan paling krusial di Indonesia saat ini: penurunan stunting.

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting nasional tercatat berada pada angka 19,8 persen, turun dari 21,5 persen pada 2023. Dalam lima tahun terakhir, tren penurunan memang menunjukkan arah positif, namun laju penurunan tersebut masih dinilai belum cukup cepat untuk mencapai target nasional sebesar 14 persen pada 2029.

Bacaan Lainnya

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, angka stunting Indonesia pada 2018 masih berada di kisaran 30 persen, yang berarti dalam kurun waktu sekitar enam tahun terjadi penurunan yang signifikan secara statistik, meski tetap menyisakan tantangan struktural yang kompleks di lapangan.

Di titik inilah peran tenaga kesehatan lini pertama menjadi sangat penting, dan bidan berada di posisi yang paling dekat dengan sumber persoalan itu sendiri: ibu hamil, bayi baru lahir, dan keluarga pada tingkat komunitas.

Dalam sistem kesehatan Indonesia, bidan bukan hanya tenaga yang membantu proses persalinan. Mereka juga menjadi penghubung utama antara masyarakat dan layanan kesehatan formal. Di banyak daerah, terutama wilayah pedesaan dan daerah dengan akses terbatas, bidan bahkan menjadi satu-satunya tenaga kesehatan yang secara rutin melakukan pemantauan kehamilan dan tumbuh kembang anak.

Organisasi profesi Ikatan Bidan Indonesia menempatkan peran bidan dalam kerangka yang lebih luas, yakni sebagai aktor kunci dalam intervensi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sebuah fase yang secara ilmiah dianggap paling menentukan terhadap risiko stunting.

Pada fase ini, bidan terlibat dalam berbagai aspek yang sering kali tidak terlihat dalam statistik makro. Mulai dari edukasi gizi ibu hamil, pemantauan kenaikan berat badan, deteksi anemia, hingga identifikasi risiko bayi dengan berat badan lahir rendah. Intervensi di tahap ini bersifat sangat menentukan karena gangguan gizi yang terjadi pada periode awal kehidupan bersifat irreversible atau sulit diperbaiki sepenuhnya di tahap berikutnya.

Dalam perspektif kesehatan masyarakat, stunting sendiri tidak lagi dipahami sebagai persoalan gizi semata, tetapi sebagai hasil akumulasi berbagai faktor: kesehatan ibu, sanitasi, akses pangan, hingga perilaku pengasuhan anak. Karena itu, pendekatan penanganannya juga bergeser dari sekadar intervensi medis menjadi pendekatan lintas sektor.

Pergeseran ini terlihat dari semakin luasnya kebijakan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, yang tidak hanya berbasis layanan kesehatan, tetapi juga intervensi gizi berbasis masyarakat dan pendidikan. Salah satu program yang masuk dalam spektrum ini adalah Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menyasar anak usia sekolah sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas asupan gizi harian.

Jika dilihat secara sistem, bidan dan program MBG sebenarnya tidak berada dalam struktur yang sama, namun berada dalam satu garis kebijakan yang saling melengkapi. Bidan bekerja pada fase paling awal kehidupan manusia—bahkan sejak masa kehamilan—sementara MBG hadir pada fase berikutnya, ketika anak sudah memasuki usia sekolah.

Dengan demikian, keduanya dapat dipahami sebagai dua ujung dari satu rantai panjang intervensi gizi nasional. Ujung pertama berada pada masa konsepsi dan kehamilan, sementara ujung berikutnya berada pada fase pertumbuhan anak usia sekolah. Di antara keduanya terdapat fase transisi yang menentukan apakah intervensi awal akan berlanjut secara optimal atau tidak.

Dalam praktiknya, bidan sering menjadi tenaga kesehatan pertama yang mendeteksi potensi risiko stunting. Kondisi seperti kurang energi kronis pada ibu hamil, anemia, atau bayi dengan berat lahir rendah menjadi indikator awal yang kemudian menentukan jenis intervensi lanjutan yang diperlukan. Temuan-temuan ini, meski tampak kecil secara individual, memiliki dampak besar terhadap peta kesehatan anak di tingkat populasi.

Sementara itu, pada fase berikutnya, program seperti MBG berupaya memperbaiki kualitas konsumsi gizi anak yang sudah memasuki usia sekolah. Pendekatan ini lebih bersifat korektif dan promotif, dengan tujuan memastikan anak tetap mendapatkan asupan gizi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan fisik dan kognitif.

Namun demikian, berbagai studi kesehatan masyarakat menegaskan bahwa keberhasilan intervensi di tahap sekolah sangat dipengaruhi oleh kondisi awal anak sejak dalam kandungan. Artinya, program gizi di hilir hanya akan optimal jika fondasi di hulu—yang sebagian besar ditentukan oleh layanan kesehatan ibu dan anak—berjalan dengan baik.

Di sinilah posisi bidan menjadi sangat penting, meskipun sering kali tidak menjadi sorotan utama dalam diskursus kebijakan publik. Mereka bekerja di titik paling awal dari siklus kehidupan, yang justru menjadi penentu utama kualitas generasi berikutnya.

Dengan capaian penurunan stunting menjadi 19,8 persen pada 2024, Indonesia menunjukkan kemajuan yang cukup konsisten. Namun angka tersebut juga mengingatkan bahwa pekerjaan belum selesai. Di balik setiap persentase penurunan, terdapat kerja berkelanjutan tenaga kesehatan di tingkat layanan dasar, termasuk bidan di puskesmas, posyandu, dan layanan komunitas.

Hari Bidan Nasional pada akhirnya tidak hanya menjadi perayaan profesi, tetapi juga pengingat bahwa arsitektur besar penurunan stunting di Indonesia tidak berdiri di ruang kebijakan pusat semata, melainkan ditopang oleh kerja-kerja sunyi di tingkat paling dasar sistem kesehatan.

Pos terkait