Bermedia.id – Ada kebodohan yang lahir karena seseorang tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk belajar. Tetapi ada kebodohan yang jauh lebih berbahaya: ketika seseorang memiliki kesempatan untuk mengetahui, tetapi memilih tidak mau mencari tahu.
Al-Qur’an memberikan gambaran yang sangat keras tentang manusia seperti itu. Dalam QS Al-A’raf ayat 179, Allah SWT menyebut manusia yang memiliki hati tetapi tidak digunakan untuk memahami, memiliki mata tetapi tidak digunakan untuk melihat, dan memiliki telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar. Mereka diumpamakan seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi: bal hum adhall.
Ayat ini menarik jika kita gunakan untuk melihat keadaan sebuah bangsa.
Sebab sebuah bangsa tidak menjadi maju hanya karena memiliki banyak sekolah, universitas, profesor, perpustakaan, teknologi dan akses informasi. Semua itu hanyalah perangkat. Yang menentukan adalah apakah perangkat tersebut benar-benar digunakan untuk mencari pengetahuan, memahami persoalan dan menemukan kebenaran.
Di sinilah paradoks kehidupan modern muncul. Kita hidup dalam zaman ketika informasi begitu mudah diperoleh. Hampir semua orang memiliki telepon pintar. Pengetahuan dunia berada di ujung jari. Penelitian ilmiah dapat diakses dalam hitungan detik. Pendidikan semakin luas. Tetapi apakah itu otomatis membuat kita menjadi masyarakat yang lebih berpengetahuan?
Belum tentu.
Kita bisa memiliki informasi yang melimpah tetapi miskin pemahaman. Kita bisa membaca banyak berita tetapi tidak mampu membedakan fakta dan opini. Kita bisa memiliki pendidikan tinggi tetapi menolak data ketika data tersebut tidak sesuai dengan kepentingan kita. Kita bisa mendengar kritik tetapi hanya menerima suara yang membenarkan pendapat sendiri.
Inilah bentuk kebodohan yang lebih subtil (tak kentara).
Masalahnya bukan tidak memiliki mata, tetapi tidak mau melihat kenyataan. Bukan tidak memiliki telinga, tetapi hanya mau mendengar apa yang menyenangkan. Bukan tidak memiliki akal, tetapi menggunakan akal untuk membenarkan kepentingan sendiri.
Jika kondisi seperti ini berlangsung secara luas, persoalannya tidak lagi menjadi masalah individu. Ia berubah menjadi persoalan bangsa.
Bangsa yang tidak mau belajar akan mudah mengulangi kesalahan. Bangsa yang tidak mau mendengar kritik akan sulit memperbaiki kebijakan. Bangsa yang tidak menghargai pengetahuan akan mudah dikendalikan oleh informasi palsu. Dan bangsa yang kehilangan kemampuan membedakan kebenaran dari kepentingan akan mudah terjebak dalam konflik yang sebenarnya tidak perlu.
Karena itu, bal hum adhall seharusnya tidak kita gunakan untuk menunjuk orang lain sebagai kaum yang lebih bodoh. Ayat tersebut justru merupakan cermin untuk diri sendiri dan masyarakat kita.
Pertanyaannya sederhana: apakah kita benar-benar menggunakan mata untuk melihat kenyataan, telinga untuk mendengar kebenaran, dan hati untuk memahami?
Sebab ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya berapa banyak orang yang berpendidikan, tetapi seberapa jauh pengetahuan digunakan untuk memperbaiki kehidupan.
Sebuah bangsa bisa kaya informasi tetapi miskin pengetahuan. Bisa berpendidikan tetapi tidak terdidik. Bisa pintar berdebat tetapi gagal menemukan kebenaran.
Dan ketika sebuah bangsa sudah sampai pada keadaan seperti itu, mungkin masalahnya bukan lagi kekurangan pengetahuan.
Masalahnya adalah tidak mau belajar.






