Piala Dunia 2026 dan Godaan Primordialisme Agama dalam Sepak Bola

Tropi dan bola resmi Piala Dunia 2026, Adidas Trionda.
Tropi dan bola resmi Piala Dunia 2026, Adidas Trionda.

Bermedia.id – Piala Dunia 2026 kembali menghadirkan fenomena yang selalu berulang setiap empat tahun sekali. Di berbagai media sosial, muncul pernyataan-pernyataan seperti, “Saya mendukung Maroko karena negara Muslim”, “Saya mendukung Senegal karena mayoritas penduduknya Muslim”, atau sebaliknya, “Saya tidak mendukung negara tertentu karena berbeda agama dengan saya.”

Fenomena ini sebenarnya tidak mengejutkan. Manusia selalu memiliki kecenderungan untuk mencari kesamaan identitas. Ketika seseorang melihat sebuah negara peserta Piala Dunia memiliki agama yang sama dengan dirinya, muncul rasa kedekatan emosional yang tidak selalu lahir dari pengetahuan tentang sepak bolanya. Kesamaan agama menjadi jembatan psikologis yang menghubungkan individu dengan sebuah tim nasional yang bahkan mungkin belum pernah ia ikuti sebelumnya.

Bacaan Lainnya

Dalam ilmu sosial, kecenderungan ini dapat dipahami melalui teori identitas sosial. Manusia tidak hanya mendefinisikan dirinya sebagai individu, tetapi juga sebagai anggota kelompok tertentu. Agama merupakan salah satu identitas yang paling kuat karena menyentuh aspek keyakinan, nilai hidup, dan rasa kebersamaan. Ketika sebuah tim dianggap mewakili kelompok agama yang sama, sebagian orang merasa bahwa kemenangan tim tersebut juga merupakan kemenangan kelompoknya.

Dalam batas tertentu, hal ini merupakan sesuatu yang wajar. Tidak ada yang salah ketika seorang Muslim merasa senang melihat keberhasilan Maroko, Senegal, atau Arab Saudi. Tidak ada yang salah ketika seorang Kristen merasa dekat dengan negara yang memiliki tradisi Kristen yang kuat. Demikian pula tidak ada yang salah ketika seseorang merasa memiliki kedekatan budaya atau sejarah dengan negara tertentu.

Masalah muncul ketika identitas agama menjadi satu-satunya dasar dalam menentukan dukungan.

Pada titik ini, olahraga kehilangan esensinya sebagai ruang kompetisi yang menghargai kualitas, kerja keras, strategi, dan sportivitas. Tim nasional tidak lagi dipandang sebagai kesebelasan yang terdiri dari pelatih, pemain, dan sistem permainan, melainkan direduksi menjadi simbol agama semata.

Pandangan seperti ini sesungguhnya menyederhanakan realitas secara berlebihan. Sebuah negara tidak pernah sesederhana label agama yang dilekatkan kepadanya. Maroko, misalnya, bukan hanya negara Muslim. Ia juga merupakan bangsa dengan sejarah, budaya, dan karakter sepak bola yang unik. Senegal bukan hanya negara Muslim. Ia memiliki tradisi sepak bola, sistem pembinaan pemain, dan perjalanan olahraga yang khas. Ketika semua kompleksitas itu direduksi menjadi satu identitas agama, kita justru gagal memahami kekayaan yang dimiliki masing-masing bangsa.

Lebih jauh lagi, dukungan yang terlalu berlandaskan identitas agama berisiko menciptakan cara pandang “kami versus mereka”. Dalam logika ini, pertandingan sepak bola tidak lagi dipahami sebagai kompetisi olahraga, melainkan sebagai pertarungan simbolik antaragama. Padahal para pemain sendiri sering kali tidak memandang pertandingan dengan cara demikian. Mereka datang sebagai atlet profesional yang berusaha memenangkan pertandingan untuk negaranya, bukan untuk mengalahkan agama lain.

Ironisnya, Piala Dunia justru menunjukkan bahwa manusia jauh lebih kompleks daripada kategori-kategori identitas yang sering kita gunakan. Dalam satu tim nasional bisa terdapat pemain yang memiliki latar belakang etnis, budaya, bahkan keyakinan yang berbeda. Banyak negara modern dibangun di atas keberaagaman semacam itu. Mengurangi mereka menjadi sekadar label agama berarti mengabaikan kenyataan yang sesungguhnya.

Namun demikian, mengkritik primordialisme agama tidak berarti menolak identitas agama itu sendiri. Agama tetap dapat menjadi sumber inspirasi positif dalam olahraga. Nilai-nilai seperti disiplin, kejujuran, kerja keras, rasa syukur, dan penghormatan kepada lawan dapat memperkaya pengalaman olahraga. Yang perlu dihindari adalaha ketika identitas agama berubah menjadi alasan untuk memberikan dukungan atau penolakan secara membabi buta.

Piala Dunia seharusnya menjadi kesempatan untuk belajar melihat dunia secara lebih luas. Kita boleh merasa dekat dengan tim tertentu karena kesamaan agama, budaya, atau sejarah. Akan tetapi, kedekatan tersebut sebaiknya menjadi pintu masuk untuk memahami pihak lain, bukan tembok yang memisahkan kita dari mereka.

Pada akhirnya, kualitas seorang penggemar sepak bola tidak diukur dari seberapa kuat ia memegang identitasnya, melainkan dari kemampuannya menghargai permainan yang indah, menghormati lawan, dan mengakui keunggulan siapa pun yang memang layak menang. Jika sepak bola mampu mengajarkan hal itu, maka Piala Dunia bukan hanya ajang mencari juara, melainkan juga pelajaran tentang bagaimana menjadi manusia yang lebih dewasa dalam memandang perbedaan.

Subhan Akbar

 

 

 

Subhan Akbar
Kontributor Bermedia.id

Pos terkait