Dignity of Halal: Ketika Memegang Prinsip Syariah Menjadi Sebuah Kehormatan

Tren pola hidup halal mulai digemari masyarakat (Foto Suara dot com)
Tren pola hidup halal mulai digemari masyarakat (Foto Suara dot com)

Bermedia.id – Ada masa ketika seseorang harus menjelaskan panjang lebar mengapa ia memilih jalan syariah. Mengapa tidak mengambil bunga bank padahal menguntungkan? Mengapa menolak transaksi yang mengandung gharar padahal peluangnya besar? Mengapa begitu cerewet memperhatikan akad? Mengapa harus memastikan sumber pendapatan, cara memperolehnya, bahkan ke mana uang itu diinvestasikan?

Di tengah dunia yang bergerak dengan logika profit, growth, dan return, orang yang masih bertanya “halal atau tidak?” terkadang dianggap terlalu idealis.

Bacaan Lainnya

Too complicated.

Padahal mungkin justru di situlah letak dignity (kebanggaan) kita: Dignity of Halal

Dalam dunia kerja dikenal istilah dignity of labour: setiap pekerjaan memiliki martabat selama dilakukan dengan benar dan terhormat. Dalam ekonomi Islam, kita seharusnya memiliki sesuatu yang bahkan lebih dalam: dignity of halal.

Sebuah izzah ketika mencari rezeki dengan cara yang Allah ridai.

Bukan merasa lebih suci daripada orang lain. Bukan pula sibuk menghakimi pilihan orang lain. Tetapi ada kebanggaan dalam hati: Saya mungkin tidak mendapatkan semua peluang, tetapi saya ingin apa yang saya dapatkan membawa keberkahan.

Sebab bagi seorang Muslim, persoalan ekonomi tidak pernah berhenti pada pertanyaan: How much do I get? Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: How do I get it? Berapa besar keuntungan memang penting. Tetapi bagaimana keuntungan itu diperoleh jauh lebih penting.

Karena tidak semua yang profitable itu halal. Tidak semua yang legal otomatis sesuai syariah. Tidak semua yang menghasilkan return menghadirkan keberkahan. Di sinilah syariah memberikan batas.

Ada riba yang harus ditinggalkan. Ada gharar yang harus dihindari. Ada maysir yang tidak boleh menjadi jalan mencari keuntungan. Ada hak orang lain yang tidak boleh dimakan. Ada akad yang harus dijaga. Ada kejujuran yang tidak boleh ditukar dengan profit.

Kadang prinsip-prinsip itu membuat jalan terasa lebih panjang.

Orang lain mungkin sudah berlari, sementara kita masih memeriksa akad.

Orang lain sudah menghitung keuntungan, kita masih memastikan kehalalan.

Orang lain berkata, “Yang penting cuan.”

Kita masih bertanya, “Yang penting cuan, atau yang penting Allah ridha?”

Bukan berarti Islam tidak menginginkan keuntungan. Islam tidak memusuhi kekayaan. Rasulullah saw pun hidup di tengah masyarakat yang berdagang. Banyak sahabat adalah saudagar yang sukses. Yang dikoreksi Islam bukan kekayaannya. Tetapi cara mendapatkannya.

Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat tegas:

«وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah : 275)

Menarik sekali.

Allah tidak mengatakan: tinggalkan ekonomi. Allah justru membuka ruang yang sangat luas:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ
Allah menghalalkan perdagangan. Tetapi kemudian Allah memberikan boundary:

وَحَرَّمَ الرِّبَا
Allah mengharamkan riba.

Artinya, Islam tidak menghalangi manusia mencari keuntungan. Islam hanya mengajarkan bahwa keuntungan tidak boleh diperoleh dengan segala cara.

Di situlah dignity seorang Muslim diuji. Bukan ketika pilihan halal dan haram menghasilkan keuntungan yang sama. Tetapi ketika yang haram tampak jauh lebih menguntungkan.

Ketika meninggalkan riba berarti kehilangan peluang.

Ketika menjaga akad berarti proses menjadi lebih panjang.

Ketika mempertahankan kejujuran berarti margin menjadi lebih kecil.

Ketika memilih syariah membuat kita terlihat berbeda dari mainstream.

Pada saat itulah prinsip memiliki harga. Karena prinsip yang hanya kita pegang ketika menguntungkan sebenarnya belum menjadi prinsip.

The Highest Level of Dignity

Ada satu ayat yang menurut saya sangat indah jika diletakkan dalam konteks ini:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia berbuat kebaikan…” (QS. An-Nisa’: 125)

Inilah the highest level of dignity.

Ketika keputusan ekonomi kita tidak hanya ditentukan oleh pasar, tetapi juga oleh nilai. Ketika kita tetap profesional, kompetitif, inovatif, dan produktif, tetapi tahu ada garis yang tidak boleh dilampaui. Maka jangan minder ketika memilih produk syariah.

Jangan merasa ketinggalan zaman karena masih memperhatikan halal-haram. Jangan malu ketika harus mengatakan, “Maaf, transaksi seperti itu tidak bisa saya lakukan.” Jangan merasa bodoh hanya karena pernah melepaskan keuntungan demi menjaga prinsip.

It’s okay.

Boleh jadi angka di rekening kita kehilangan sesuatu. Tetapi jangan sampai kehidupan kita kehilangan barakah. Sebab dalam ekonomi syariah, keberhasilan bukan hanya tentang wealth accumulation, tetapi juga tentang falah. Bukan hanya profitability, tetapi juga maslahah.

Bukan sekadar return, tetapi juga barakah. Dan mungkin inilah yang perlu kita bangun kembali:

Dignity of Halal.

Sebuah izzah untuk mengatakan, “Saya ingin maju. Saya ingin sejahtera. Saya ingin memperoleh keuntungan. Tetapi saya ingin mendapatkannya dengan cara yang Allah ridai.” Karena pada akhirnya, rezeki bukan hanya tentang berapa banyak yang masuk ke tangan kita.

Tetapi juga tentang bagaimana kita mempertanggungjawabkannya ketika kembali kepada-Nya.

 

Aidil Heryana

 

Penulis:
Aidil Heryana, ME
Pelaku Ekonomi Kerakyatan

Pos terkait