Bermedia.id – Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto, minta insiden karamnya Kapal Selam KRI Nanggala 402 sepatutnya mendorong Pemerintah melakukan modernisasi alat utama sistem pertahanan (alutsista).
Pemerintah perlu mengoptimalkan peran dan fungsi Kemenristek dan BUMN Pertahanan untuk mendukung program modernisasi alutsista tersebut.
Meskipun hasil investigasi komprehensif karamnya KRI Nanggala 402 belum keluar namun fakta obyektif menunjukan kemampuan alutsista Indonesia jauh tertinggal. Baik secara jumlah maupun kualitas. Banyak alutsista yang ada sekarang berumur melebihi dari jangka waktu efektif penggunaan yang semestinya.
Untuk itu Mulyanto mendorong Menristek, sebagai anggota Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), menginisiasi perumusan ulang kebijakan pengembangan industri pertahanan nasional. Hal ini perlu dalam rangka memperbaharui alutsista nasional agar memenuhi batas minimum kemampuan (minimum essential force atau MEF).
“Hasil produksi industri pertahanan kita, baik Pindad maupun PAL tidak kalah dengan produk impor. Bahkan kerap kali produk Pindad menjadi juara dalam berbagai perlombaan penggunaan senjata.
Artinya kualitas produk industri Hankam kita ini sudah sangat baik. Yang perlu mendapat perhatian adalah political will dan dukungan kebijakan Pemerintah, agar “jam terbang” produksi industri Hankam tersebut semakin tinggi, sehingga semakin menghasilkan produk inovasi hankam yang berdaya saing tinggi,” ujar Mulyanto.
Industri Pertahanan
Mulyanto menambahkan hasil riset dan pengembangan Hankam, baik yang dilakukan oleh lembaga riset maupun oleh industri Hankam perlu didorong untuk disempurnakan dan diproduksi secara domestik.
“Pelaksanaannya tentu saja pada saat keuangan negara sudah membaik. Masak semangatnya kalah dengan jama’ah Masjid Jogokaryan, Yogyakarta,” imbuh Wakil Ketua FPKS DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan ini.
Mulyanto berharap ke depan melalui review kebijakan industri pertahanan nasional secara seksama, dapat didorong kebijakan anggaran yang kondusif untuk produksi alutsista nasional secara domestik tersebut.
Untuk diketahui Nanggala 402 adalah kapal selam bermotor diesel-listrik tipe U-209 buatan Jerman, yang berusia mencapai 44 tahun. Padahal normalnya operasi kapal selam hanya sampai usia 25-30 tahun. Karenanya memerlukan perawatan yang intensif.
Alutsista lain diperkirakan memiliki usia dan model perawatan yang serupa. Karena itu pertimbangan untuk mereview kebijakan alutsisata dan industri pertahanan nasional menjadi penting untuk dilakukan dalam rangka membangun sistem pertahanan dan keamanan nasional yang tangguh.