Pendirian Indonesia Nazhir Academy Percepat Transformasi Wakaf Nasional

Silaturahim Asosiasi Nazhir Indonesia di Jakarta
Peserta silaturahim Asosiasi NAzhir Indonesia (ANI) melakukan foto bersama usai mengikuti kegiatan.

Bermedia.id – Asosiasi Nazhir Indonesia (ANI) adakan acara Silaturrahim Nazhir Indonesia, Launching Indonesia Nazhir Academy (INA), dan Talk Show Amandemen Wakaf, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu, (11/04/2026). Acara ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem wakaf nasional, karena mencakup konsolidasi gerakan nazhir, peluncuran pusat pembelajaran nazhir, dan dialog kebijakan mengenai arah baru regulasi wakaf Indonesia.

Hadir di acara ini para nazhir dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satu yang menonjol dari forum ini adalah kuatnya kehadiran generasi muda. Kehadiran kaum muda dalam acara ini menandakan bahwa wakaf tidak lagi dipandang sebagai sektor yang statis dan tradisional, melainkan sebagai ruang pengabdian, inovasi, dan pembangunan masa depan umat yang semakin relevan.

Bacaan Lainnya

Kegiatan ini dibagi ke dalam tiga agenda utama, yaitu Silaturrahim Nazhir Indonesia, Launching Indonesia Nazhir Academy (INA), dan Talk Show Amandemen Wakaf. Ketiga agenda tersebut dirancang saling melengkapi.

Silaturrahim menjadi ruang konsolidasi dan penguatan jejaring nasional, peluncuran INA menjadi tonggak penguatan kapasitas sumber daya manusia nazhir, sedangkan talk show amandemen wakaf menjadi arena pertukaran gagasan lintas lembaga mengenai pembaruan tata kelola dan regulasi wakaf yang lebih adaptif.

Silaturrahim Nazhir Indonesia menjadi ruang strategis untuk mempertemukan para pengelola wakaf dari berbagai latar belakang, pengalaman, dan wilayah. Pertemuan ini tidak hanya mempererat ukhuwah, tetapi juga membuka ruang belajar bersama, pertukaran pengalaman lapangan, serta pembentukan kesadaran kolektif bahwa kebangkitan wakaf Indonesia hanya mungkin dicapai melalui kolaborasi yang lebih kuat. Dalam konteks ini, silaturrahim tidak berhenti sebagai pertemuan sosial, tetapi menjadi bagian dari konsolidasi nasional para penjaga amanah umat.

Proses Konsolidasi

Ketua Panitia, Ahmad Faisal, menjelaskan Silaturrahim Nazhir Indonesia merupakan bagian dari rangkaian kegiatan besar ANI yang telah dimulai sejak awal tahun. Menurutnya, proses konsolidasi ini diawali dengan Rakernas Online pada 15 Februari 2026, kemudian dilanjutkan pada pertengahan Ramadhan melalui webinar Nazhir Insight Series (NIS) bertema Wakaf Ibadah Cerdas yang diikuti lebih dari 80 peserta.

“Hari ini menjadi puncaknya melalui Silaturrahim Nazhir Indonesia di Masjid Istiqlal. Peserta yang hadir juga cukup representatif secara nasional, karena datang dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Ke depan, kami berharap seluruh wilayah di Indonesia dapat semakin terlibat dalam agenda-agenda ANI,” ujarnya.

Peluncuran Indonesia Nazhir Academy (INA) menjadi salah satu penanda terpenting dalam acara ini. INA hadir sebagai jawaban atas kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kualitas nazhir Indonesia secara lebih sistematis, terstruktur, dan berkelanjutan. Di tengah besarnya potensi wakaf nasional, tantangan utama justru terletak pada belum meratanya kapasitas pengelolaan. Ratusan ribu titik aset wakaf masih belum produktif, sementara kualitas sumber daya manusia nazhir dan tata kelola kelembagaan masih membutuhkan penguatan yang serius.

INA dirancang bukan sekadar sebagai program pelatihan, melainkan sebagai pusat pembelajaran dan pembinaan nazhir yang berorientasi pada perubahan mindset, penguatan karakter amanah, peningkatan kompetensi, perbaikan kinerja, dan perluasan literasi wakaf. Melalui INA, ANI ingin mendorong lahirnya generasi baru nazhir yang bukan hanya memahami nilai dan fikih wakaf, tetapi juga mampu mengelola aset, membangun kepercayaan publik, mengembangkan proyek produktif, serta menghadirkan manfaat yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Selaras dengan itu, Ahmad Faisal menegaskan bahwa peluncuran INA merupakan langkah strategis untuk membangun fondasi baru pengelolaan wakaf di Indonesia. “INA bukan sekadar program pelatihan, tetapi bagian dari upaya strategis membangun fondasi baru pengelolaan wakaf. Kita ingin memastikan bahwa nazhir Indonesia tidak hanya amanah, tetapi juga profesional, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman,” ujarnya.

Agenda Silaturahim

Agenda ketiga, yakni Talk Show Amandemen Wakaf, menghadirkan sejumlah narasumber dari institusi-institusi strategis, yaitu Dr. Dwi Irianti Hadingnidyah, Direktur Keuangan Sosial Syariah KNEKS; Ibu Siti Rochmawati, S.T., M.Sc., Deputi Direktur Kelompok Pemberdayaan Sektor Keuangan Inklusif Syariah, DEKS Bank Indonesia; Dr. KH. Ahmad Zubaidi, M.A., Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia; Prof. Helza Novalita dari Asosiasi Nazhir Indonesia; Rayan Asa Luminaries dari Forum Wakaf Produktif; serta Soeyatwoko, AVP Islamic Ecosystem Solution Group BSI. Hadir pula sebagai tokoh penanggap Dr. Royyan Ramdhani, M.A., Wakil Rektor Universitas Darussalam Gontor.

Dalam paparannya, Dr. Dwi Irianti Hadingnidyah menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi wakaf yang sangat besar, namun tantangan utamanya terletak pada produktivitas aset, kualitas sumber daya manusia, kebutuhan pembiayaan, dan penguatan tata kelola. Ia menekankan bahwa wakaf harus ditempatkan sebagai instrumen ekonomi strategis, bukan hanya instrumen ibadah dalam pengertian yang terbatas. Menurutnya, penguatan wakaf nasional perlu ditopang oleh peta jalan yang kuat melalui literasi, regulasi, peningkatan kualitas SDM, digitalisasi, dan pembangunan proyek-proyek berdampak besar agar wakaf hadir secara nyata dalam pembangunan nasional.

Sementara itu, Ibu Siti Rochmawati, S.T., M.Sc. dari DEKS BI menyoroti pentingnya profesionalisasi nazhir sebagai kebutuhan mendesak dalam pengembangan wakaf Indonesia. Menurutnya, nazhir ke depan harus dipandang sebagai profesi utama yang menuntut kompetensi manajerial, bisnis, dan tata kelola yang kuat, setara dengan pengelola aset modern. Ia juga menekankan pentingnya penguatan standar kompetensi, integrasi data, digitalisasi, dan penerapan prinsip-prinsip tata kelola wakaf yang sehat agar lembaga wakaf mampu tumbuh secara berkelanjutan dan memperoleh kepercayaan publik yang lebih luas.

Perspektif BWI

Dari perspektif Badan Wakaf Indonesia, Dr. KH. Ahmad Zubaidi, M.A. menegaskan pentingnya pembaruan regulasi wakaf agar mampu menjawab perkembangan zaman dan kebutuhan pengelolaan yang semakin kompleks. Kehadiran BWI dalam forum ini menegaskan komitmen untuk mendorong tata kelola wakaf yang lebih kuat, lebih terintegrasi, dan lebih adaptif terhadap tantangan riil di lapangan. Pandangan ini memperkuat kesadaran bersama bahwa penguatan wakaf nasional membutuhkan landasan regulasi yang visioner sekaligus aplikatif.

Dari kalangan Asosiasi Nazhir Indonesia, Prof. Helza Novalita menekankan bahwa penguatan wakaf ke depan tidak bisa dilepaskan dari pembangunan kapasitas kelembagaan nazhir. Menurutnya, pengelolaan wakaf harus bergerak dari pola tradisional menuju pola yang lebih profesional, terukur, dan berorientasi pada keberlanjutan manfaat. Dalam konteks itulah, kehadiran INA menjadi relevan sebagai ikhtiar untuk melahirkan nazhir yang tidak hanya memahami nilai wakaf, tetapi juga mampu menerjemahkannya menjadi sistem kerja dan dampak yang nyata.

Sementara itu, Rayyan Luminari dari Forum Wakaf Produktif menggarisbawahi bahwa tantangan terbesar wakaf nasional bukan semata pada besarnya angka potensi, melainkan pada minimnya proyek-proyek ikonik dan produktif yang benar-benar dirasakan publik. Ia menilai, wakaf perlu didorong keluar dari pola konsumtif menuju pendekatan investasi sektor riil dan dampak berkelanjutan. Menurutnya, wakaf hanya akan tumbuh menjadi kekuatan besar jika para nazhir berani mengelolanya dengan mentalitas produktif, mitigasi risiko yang baik, dan komitmen pada transparansi.

Dari sektor perbankan syariah, Soeyatwoko, AVP Islamic Ecosystem Solution Group BSI, menekankan pentingnya sinergi antara lembaga keuangan syariah dan nazhir dalam memperkuat ekosistem wakaf nasional. Ia melihat peluang besar bagi pengembangan instrumen wakaf digital, pengelolaan wakaf uang, dan optimalisasi aset melalui skema kerja sama yang sehat dan profesional. Menurutnya, wakaf ke depan memerlukan proyek yang terukur, menarik, dan terpercaya agar dapat menjangkau partisipasi masyarakat yang lebih luas, termasuk peluang dari investor global.

Pendidikan Berbasis Wakaf

Adapun Dr. Royyan Ramdhani, M.A., sebagai tokoh penanggap, menghadirkan perspektif penting dari pengalaman lembaga pendidikan berbasis wakaf. Ia menekankan bahwa wakaf harus menjadi fondasi kemandirian institusi, bukan sekadar penopang administratif. Dengan merujuk pada praktik di lingkungan pendidikan, ia menunjukkan bahwa keberhasilan wakaf sangat ditentukan oleh keteladanan, kemandirian, dan kemampuan membangun sistem yang aplikatif dan adaptif. Pandangan ini memberi penegasan bahwa wakaf bukan hanya soal aset, tetapi juga soal pembentukan budaya kelembagaan dan “wakaf manusia” yang menempatkan kemaslahatan institusi di atas kepentingan pribadi.

Secara keseluruhan, talk show ini memperlihatkan satu benang merah yang kuat: wakaf Indonesia membutuhkan lompatan serentak pada tiga bidang sekaligus, yaitu kualitas SDM nazhir, kekuatan tata kelola kelembagaan, dan pembaruan regulasi yang lebih adaptif. Berbagai pandangan yang muncul menegaskan bahwa tantangan utama saat ini tidak lagi sekadar menghimpun wakaf, tetapi mengubah potensi besar itu menjadi dampak nyata yang dapat dirasakan publik, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, maupun pembangunan sosial yang lebih luas.

Presiden Asosiasi Nazhir Indonesia, Imam Nur Azis, menegaskan bahwa masa depan wakaf tidak hanya ditentukan oleh besarnya aset, tetapi oleh kualitas pengelolaannya. “Kita tidak kekurangan potensi, tetapi kita masih kekurangan kapasitas. Karena itu, wakaf ke depan harus dibangun di atas dua fondasi utama: penguatan SDM nazhir dan pembaruan sistem melalui regulasi yang lebih visioner,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, “Melalui INA dan dorongan amandemen UU Wakaf, kita ingin membawa wakaf Indonesia naik kelas—dari sekadar potensi menjadi kekuatan nyata dalam membangun ekonomi umat dan peradaban.”

Kegiatan ini menjadi penanda bahwa wakaf Indonesia tengah bergerak menuju fase baru yang lebih sistematis, lebih profesional, dan lebih terintegrasi. Sinergi antara silaturrahim nasional para nazhir, peluncuran Indonesia Nazhir Academy, dan dialog strategis mengenai amandemen wakaf menunjukkan bahwa ekosistem wakaf nasional sedang dibangun di atas fondasi yang lebih kuat. Kehadiran generasi muda, dukungan para tokoh, serta keterlibatan lembaga-lembaga strategis menjadi modal penting bagi lahirnya pengelolaan wakaf yang lebih modern, terpercaya, dan berdampak luas.

Dengan semangat tersebut, ANI berharap momentum di Masjid Istiqlal ini tidak berhenti sebagai agenda sesaat, tetapi menjadi awal dari konsolidasi besar gerakan wakaf Indonesia. Harapannya, wakaf tidak lagi berhenti pada potensi, melainkan benar-benar tumbuh menjadi kekuatan nyata dalam membangun kesejahteraan umat, kemandirian lembaga, dan fondasi peradaban Indonesia yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan.

 

Pos terkait